Perbedaan Aqiqah dan Qurban yang Wajib Anda Ketahui

Perbedaan Aqiqah dan Qurban yang Wajib Anda Ketahui

Perbedaan antara aqiqah dan qurban masih menjadi persoalan yang membingungkan di masyarakat. Pantas saja karena secara dhohir, aqiqah dan qurban memiliki kesamaan yaitu menyembelih hewan (dalam hal ini baik berqurban maupun aqiqah boleh menggunakan hewan jantan maupun betina, namun untuk aqiqah hanya menggunakan kambing dan sejenisnya saja) serta sama-sama berhukum sunnah muakkad.

Aqiqah, menurut bahasa artinya memotong. Asal matanya aqqa- yauqqu- aqqan. Menurut para ulama, istilah memotong memiliki makna beragam. Yakni memotong atau menyembelih hewan dan memotong rambut bayi yang lahir. Menurut Abu Ubaid, aqiqah berarti rambut atau bulu yang ada di kepala bayi.

Menurut istilah, aqiqah bermakna pemotongan atau penyembelihan hewan dalam rangka tasyakuran kepada Allah SWT karena kelahiran anak (laki-laki maupun perempuan) disertai dengan pemotongan rambut bayi tersebut.

Baca juga : Syarat Kambing Aqiqah

Sedangkan asal kata qurban yaitu qariba- yaqrabu- qurbanan wa wirbanan (dikutip dari kamus Ibn Manzhur dan Munawir). Arti dari kata tersebut adalah dekat, maksudnya mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan mengerjakan perintah-Nya.

Selain itu, kata qurban juga berkaitan dengan kata udhiyyah bentuk jamak dari kata dhahiyyah yang berasal dari kata dhaha (waktu dhuha). Maknanya yaitu, sembelihan di waktu dhuha pada tanggal 10 sampai 13 bulan Dzulhijjah.

Sedangkan menurut istilah, qurban yaitu menyembelih hewan dengan tujuan beribadah kepada Allah pada Hari Raya Haji atau Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah dan tiga hari tasyriq setelahnya 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Perbedaan Aqiqah dan Qurban

Ilustrasi Perbedaan Aqiqah dan Qurban
Ilustrasi Perbedaan Aqiqah dan Qurban, Sumber : Ternakan Kambing

Di antara sekian banyak ibadah sunah yang dianjurkan untuk dilaksanakan, ada dua ibadah yang memiliki kesamaan, yaitu aqiqah dan qurban. Orang yang memiliki kemampuan atau mantap secara finansial bisa melakukan kedua ibadah sunah ini bila ingin menggapai pahala dan keberkahan yang besar dari Allah Ta’ala. Meski keduanya sama-sama sunah utama, akan tetapi ada beberapa perbedaan aqiqah dan qurban.

Meski jelas ibadah aqiqah dan qurban ini ketentuannya tidak sama. Sebagian orang masih merasa bingung membedakannya. Oleh karena itu, mari simak beberapa perbedaan aqiqah dan qurban yang wajib Anda ketahui.

1. Jenis Hewan

Saat hendak melakukan ibadah qurban, Anda tentu akan mencari hewan terbaik. Di antara beberapa jenis hewan, yang tergolong hewan qurban di antaranya adalah sapi, kambing, domba, kerbau, hingga unta. Selain itu, hewan qurban juga dibagikan dalam kondisi mentah.

Untuk aqiqah, jenis hewan yang digunakan hanya kambing saja.

Nah, kambing ini tidak Anda berikan dalam keadaan mentah, melainkan harus sudah diolah jadi sajian menggugah selera misalnya, sate atau gulai.

Bila Anda merasa repot dengan segala persiapan aqiqah bagi si kecil, Anda bisa mengontak jasa layanan aqiqah seperti Padi Aqiqah yang melayani aqiqah untuk wilayah Purwokerto dan sekitarnya. Jasa layanan aqiqah akan bekerja secara profesional dalam menyiapkan segala keperluan aqiqah buah hati Anda.

2. Jumlah Hewan

Kambing Aqiqah, sumber ig lensproducties
Kambing Aqiqah, Sumber : IG @lensproducties

Hewan qurban umumnya berjumlah satu ekor atau lebih, tergantung dari kemampuan masing-masing orang. Dalam ibadah yang dilakukan pada bulan Dzulhijjah ini, seseorang tidak diperbolehkan mengambil upah menyembelih hewan qurban.

Sementara aqiqah bayi ketentuannya adalah dua ekor untuk anak lelaki dan seekor bagi perempuan. Di prosesi aqiqah ini diperbolehkan mengambil upah menyembelih.

3. Pembagian Daging

Daging qurban boleh dibagikan sepertiganya untuk saudara atau kerabat, sepertiga bagian fakir miskin, sisanya barulah disantap sendiri. Artinya ada tiga kelompok yang berhak atas daging qurban tersebut. Ketentuan ini tercantum jelas dalam Alquran.

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28).

Sementara untuk hewan sembelihan aqiqah, boleh dibagikan kepada siapa saja. Alangkah baiknya mendahulukan warga sekitar atau tetangga. Sebab pembagian daging aqiqah kepada orang-orang terdekat bisa memperkokoh tali silaturahmi. Para tetangga akan lebih mengenal Anda juga putra-putri Anda.

4. Tujuan Pelaksanaan

Ilustrasi Pelaksanaan Aqiqah
Ilustrasi Pelaksanaan Aqiqah, Sumber : Damainesia

Tujuan Anda melaksanakan ibadah qurban tentu ingin meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS atau sebagai peringatan atas pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang luar biasa. Sementara aqiqah itu berbeda. Tujuan digelarnya acara ini semata-mata adalah sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta’ala atas karunia tidak ternilai yaitu buah hati terkasih.

Baca juga : Persiapan Aqiqah

5. Waktu Pelaksanaan

Ibadah qurban bisa dilaksanakan setiap tahun yaitu bulan Dzulhijjah, dengan catatan tidak memberatkan atau Anda merasa mampu untuk membeli hewan ternak. Lain halnya dengan aqiqah yang dilakukan sekali seumur hidup.

Paling pas pada tujuh hari setelah kelahiran buah hati. Tapi bila belum mampu, boleh pada hari ke-14 atau 21, dan jika masih juga tidak mampu di ketiga waktu tersebut, orang tua boleh meng-aqiqah buah hati kapan saja. Dianjurkan sebelum anak baligh. Jadi, jelas sudah bahwa ada perbedaan waktu antara keduanya.

Demikianlah ulasan mengenai beberapa perbedaan aqiqah dan qurban yang wajib untuk Anda ketahui. Semoga Allah mudahkan kita melaksanakan kedua amalan ibadah sunnah tersebut dan tidak ada lagi salah paham mengenai perbedaan keduanya. Simak artikel bermanfaat lainnya seputar aqiqah di sini. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda.

Cara Menidurkan Bayi : Penting Ibu Ketahui!

Cara Menidurkan Bayi : Penting Ibu Ketahui!

Cara Menidurkan Bayi – Di satu tahun pertamanya, bayi membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Tak heran jika ia bisa menghabiskan separuh harinya untuk tidur. Namun, ada kalanya bayi rewel dan susah tidur, sehingga membuat Ibu harus mencari cara menidurkan bayi agar bisa terlelap lagi.

Terkadang momen seperti ini membuat para orang tua baru bingung hingga bisa menjadi momen emosional karena belum terbiasa dengan siklus tidur bayi yang tak menentu. 

Perlu diketahui bahwa waktu tidur yang cukup memiliki peran penting terhadap perkembangan kognitif si Kecil, mulai dari kemampuan berpikir, memahami, dan mengelola informasi, hingga belajar bahasa. Untuk itu, Ibu perlu mengetahui cara menidurkan bayi supaya si Kecil mendapatkan istirahat yang cukup, terutama saat ia sedang rewel dan susah tidur. 

Selain itu, tidur juga memiliki banyak manfaat lain untuk bayi, di antaranya dapat merangsang tumbuh kembang otak, hormon pertumbuhan, serta bisa menjaga daya tahan tubuh.

Waktu Tidur Bayi

Ilustrasi Bayi Tidur
Ilustrasi Bayi Tidur, Sumber : theasianparent.com

Jika orang dewasa membutuhkan jam tidur sebanyak 7-8 jam, hal ini berbeda dengan bayi. Jam tidur bayi bervariasi tergantung pada usianya. Supaya mengetahui cara menidurkan bayi dengan benar, Ibu perlu tahu dulu waktu tidur bayi berdasarkan usia, yaitu:

Bayi baru lahir, pola tidur bayi pada usia ini masih belum teratur. Biasanya, total waktu tidur bayi baru lahir adalah 16 jam. Pembagiannya adalah 8-9 jam di malam hari dan 8 jam di siang hari. Bayi usia 1-2 bulan, di usia ini, biasanya bayi sudah mulai mengenali siang dan malam. Total waktu tidurnya adalah 15,5 jam, yang terbagi antara 8-9 jam di malam hari dan 7 jam di siang hari.

Bayi usia 3-6 bulan, untuk bayi di usia ini, total tidurnya adalah 15 jam, dengan pembagian jam tidur bayi antara 9-10 jam di malam hari dan 4-5 jam di siang hari. Bayi usia 6-9 bulan, memasuki usia 6 bulan, total waktu tidur bayi berkurang menjadi 14 jam dalam sehari, dengan pembagiannya antara 10 jam di malam hari dan 4 jam di siang hari. 

Bayi usia 9-12 bulan, biasanya memasuki rentang usia ini, bayi kemungkinan besar akan sulit tidur atau bahan tidak mau tidur jika tidak bersama orang tuanya. Rata-rata total tidurnya adalah 14 jam, dengan pembagian sebanyak 11 jam di malam hari dan 3 jam di siang hari. 

Siklus tidur bayi memang belum normal, terkadang bisa terlelap di siang hari dan terjaga di malam hari. Namun, rata-rata waktu tidur di atas bisa menjadi acuan Ibu supaya dapat menentukan waktu tidur yang tepat untuk si Kecil. Selain itu, ada beberapa penyebab bayi susah tidur yang perlu Ibu ketahui. Sebab, penyebab ini bisa menjadi jawaban agar Ibu mengetahui cara menidurkan bayi dengan benar.

Berikut adalah beberapa penyebab bayi susah tidur, yaitu : merasa lapar dan haus, terlalu Lelah, sakit, tidak tidur siang, tidak mau jauh dari Ibu, merasa tidak aman dan nyaman, jam waktu tidur tidak menentu, dan kurang mendapat sinar matahari.

Cara Menidurkan Bayi

Ilustrasi Cara Menidurkan Bayi
Ilustrasi Cara Menidurkan Bayi, Sumber : okezone.com

Berikut ini beberapa cara menidurkan bayi yang bisa Ibu lakukan di rumah, antara lain:

1. Memberikan ASI

Cara menidurkan bayi yang efektif adalah dengan memberikan ASI karena di dalamnya terkandung melatonin (hormon yang membantu tidur). Jadi, jika sudah memasuki jam tidurnya, berikan si Kecil ASI secara langsung maupun melalui botol.

2. Memenuhi Asupan Nutrisi

Selain memberikan ASI, cara menidurkan bayi yang sudah berusia lebih dari 6 bulan adalah dengan mencukupi asupannya dari air putih dan MPASI yang mengandung nutrisi lengkap serta berkualitas, meliputi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.

Kebutuhan nutrisi ini penting untuk mendukung tumbuh kembang optimal si Kecil. Pastikan Ibu memberikan MPASI bernutrisi jika si Kecil sudah berusia 7-12 bulan agar ia merasa kenyang di siang dan sore hari, serta bisa lebih mudah tidur di malam hari. 

3. Memijat Lembut 

Salah satu cara menidurkan bayi yang bisa Ibu lakukan adalah dengan memijat tubuhnya setelah ia mandi di sore hari atau sebelum waktu tidur malamnya tiba. Pijatan yang lembut bisa membuat si Kecil lebih rileks dan nyaman. Ibu bisa memijat bagian lengan, punggung, kaki, dan perut dengan menggunakan baby oil atau minyak pijat khusus bayi. 

4. Mengajak Berjemur 

Ilustrasi Bayi Berjemur
Ilustrasi Bayi Berjemur, Sumber : klikdokter.com

Cara menidurkan bayi selanjutnya adalah rutin mengajaknya keluar rumah. Bayi perlu mendapatkan sinar matahari sore agar lebih mudah tertidur serta untuk mendapatkan vitamin D yang baik untuk pertumbuhan tulangnya. Ajaklah si Kecil keluar rumah di pagi hari untuk berjemur dan di sore hari. 

Baca juga : Panduan Praktis Merawat Bayi

5. Mengurangi Aktivitas Berat

Cara ini bisa Ibu lakukan terutama jika si Kecil sudah memasuki usia yang lebih aktif. Sebaiknya Ibu tidak mengajak si Kecil beraktivitas terlalu berat saat mendekati jam tidurnya. Ini penting agar ia tidak merasa kelelahan. Lebih baik memberikan rutinitas yang menenangkan dan membuat rileks, seperti memijat, membaca buku, dan mendengarkan suara atau musik yang menenangkan. 

6. Memberi Pereda Rasa Sakit

Saat si Kecil sakit, maka cara menidurkan bayi yang bisa Ibu lakukan adalah dengan memberikan pereda rasa sakit. Jika demam, berikan obat kompres. Bila pilek dan batuk, olesi dada, leher, dan punggungnya dengan salep khusus bayi atau menyalakan humidifier di kamar agar suasananya jadi lebih nyaman dan rileks. 

Itulah beberapa cara menidurkan bayi yang bisa Ibu lakukan setiap hari atau jika si Kecil sedang rewel. Sebenarnya cara menidurkan bayi yang paling utama adalah dengan menciptakan rutinitas yang sama setiap malam sehingga si Kecil merasa nyaman dan lebih mudah tidur. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda.

Aqiqah di Bulan Ramadhan : Raih Double Pahala!

Aqiqah di Bulan Ramadhan : Raih Double Pahala!

Aqiqah di bulan Ramadhan – Aqiqah merupakan suatu ibadah yang dilaksanakan dengan menyembelih hewan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas kelahiran anak. Pelaksanaan aqiqah menurut syariat Islam apabila yang dilahirkan adalah bayi laki-laki maka dibutuhkan 2 ekor kambing. Untuk anak perempuan 1 ekor kambing.

Meskipun begitu, aqiqah diberlakukan bagi yang mempunyai kemampuan saja. Diperlukan banyak hal persiapan aqiqah agar ibadah aqiqah dapat berjalan dengan lancar.

Pelaksanaan ibadah aqiqah disunahkan pada hari ketujuh kelahiran bayi sebagaimana berpatokan pada hadits berikut, “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi nama.” (HR. Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Apabila tidak sempat melaksanakannya pada hari ketujuh, maka bisa diganti pada hari ke empat belas. Dan bila tidak bisa hari ke empat belas, bisa pada hari keduapuluh satu. Tetapi bila tidak bisa dilakukan di hari-hari tersebut, tidak masalah dilakukan di hari lain karena hari-hari tersebut merupakan hari yang disunnahkan.

Baca juga : Syarat Kambing Aqiqah

Dalil Dasar Aqiqah

Kambing Aqiqah, sumber : FIF Group
Kambing Aqiqah, Sumber : FIF Group

Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan tentang sunnahnya melakukan aqiqah bagi seorang bayi yang baru dilahirkan. Di antaranya yaitu: Dari Samurah bin Jundab dia berkata, Rasulullah bersabda :“Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadits shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad , Ad Darimi)

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, Rasulullah bersabda : “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata : Rasulullah bersabda : “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.” (Hadist Riwayat Ahmad , Thabrani dan al-Baihaqi)

Dari Aisyah dia berkata, Rasulullah bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” (Hadits Riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, Rasulullah bersabda. : “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” (Hadits Riwayat Abu Dawud, Nasa’I, Ahmad)

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda : “Menaqiqahi Hasan dan Husein dengan satu kambing dan satu kambing kibas.” (HR Abu Dawud)

Sunnah saat Aqiqah

Ilustrasi Pelaksanaan Aqiqah
Ilustrasi Pelaksanaan Aqiqah, Sumber : Damainesia

Dalam kitab Fathul Qarib, Al-Ghazi menjelaskan bahwa terdapat sunnah-sunnah yang sebaiknya dilakukan saat aqiqah, yaitu:

Memberikan nama pada anak di hari ke-7, tepatnya saat aqiqah. Alangkah indahnya jika kita memberi nama untuk buah hati kita dengan nama-nama yang Islami, mencukur rambut si bayi, dan bersedakah sesuai dengan berat timbangan rambut yang dipotong.

Hidangan Aqiqah

Hewan yang disembelih saat aqiqah hendaknya diolah atau dimasak terlebih dahulu menjadi hidangan siap santap. Setelah itu, makanan tersebut boleh dibagikan-bagikan kepada orang lain. Yang lebih utama adalah kerabat dan tetangga.

Baca juga : Persiapan Aqiqah

Aqiqah di Bulan Ramadhan : Peluang Mendapat Double Pahala

Ilustrasi Aqiqah di Bulan Ramadhan
Ilustrasi Aqiqah di Bulan Ramadhan, Sumber : Padi Aqiqah

Maksudnya adalah, Anda bisa mendapat keuntungan pahala berkali-kali lipat apabila melakukan aqiqah di bulan Ramadhan. Bagaimana caranya? Silakan Anda simak terlebih dahulu bunyi hadist berikut ini:

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa maka kita akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, luar biasa bukan? Anda pasti sudah bisa mengetahui dimana letak peluangnya.

Ya betul, pembagian daging aqiqah dianjurkan untuk diberikan dalam keadaan masak atau dagingnya sudah diolah terlebih dahulu. Dengan demikian, melaksanakan aqiqah di bulan Ramadhan, selain mendapatkan pahala dari ibadah aqiqah itu sendiri juga akan mendapatkan pahala dari memberi makan orang yang berbuka puasa.

Cara Melaksanakan Aqiqah di Bulan Ramadhan

Tata cara pelaksanaan aqiqah di bulan Ramadhan sama saja seperti pelaksanaan aqiqah di bulan lainnya. Hanya saja jika Anda ingin menyelenggarakan acara tasyakuran aqiqah siang hari di bulan Ramadhan, mungkin tidak menggunakan menu prasmanan. Praktisnya, Anda bisa memakai nasi box sebagai alternatif pengganti menu prasmanan.

Untuk anak laki-laki memakai dua ekor domba atau kambing dan anak perempuan satu ekor domba atau kambing. Hewan aqiqah tersebut boleh berjenis kelamin jantan maupun betina.

Pastikan juga hewan aqiqah dalam kondisi sehat, tidak sakit dan tidak cacat fisik. Setelah pemotongan hewan selesai, Anda bisa membagikannya kepada tetangga. Dianjurkan untuk mengolah dagingnya terlebih dahulu sehingga dibagikannya sudah dalam keadaan matang.

Demikianlah ulasan mengenai ibadah aqiqah di bulan ramadhan. Tentu dengan dilaksanakan di bulan ramadhan menjadi peluang double pahala yang akan didapatkan. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda. Simak artikel bermanfaat lainnya seputar aqiqah di sini.

Syarat Kambing Aqiqah : Berikut Penjelasannya!

Syarat Kambing Aqiqah : Berikut Penjelasannya!

Syarat Kambing Aqiqah – Hadirnya seorang buah hati tentu menjadi hadiah terindah bagi setiap orang tua. Biasanya umat Islam menyelenggarakan aqiqah sebagai tanda syukur atas kelahiran bayi mereka. Aqiqah dilakukan dengan cara menyembelih binatang ternak lalu dibagikan kepada kerabat dan tetangga.

Secara bahasa, aqiqah berarti memotong. Namun, ada juga mengartikan sebagai “nama rambut bayi yang baru dilahirkan”. Sedangkan menurut istilah, aqiqah merupakan proses pemotongan hewan sembelihan pada hari ke tujuh setelah bayi dilahirkan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah.

Ulama lain berpendapat bahwa aqiqah adalah salah satu bentuk penebus terhadap bayi yang dilahirkan, agar si bayi bisa terlepas dari kekangan jin. Hewan yang digunakan untuk aqiqah biasanya hewan ternak seperti kambing. Aqiqah dapat dilakukan di hari ke-7, ke-14, atau ke-21 setelah kelahiran si bayi. Untuk anak laki-laki diharuskan memotong dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan satu ekor kambing.

Hukum Aqiqah

Pedoman Aqiqah
Pedoman Aqiqah, Sumber : Suara Muslim

Dalam Islam, hukum aqiqah dibedakan menjadi 2 macam yakni sunnah dan wajib. Hal tersebut didasarkan atas dalil-dalil serta tafsir dari para ulama.

1. Sunnah

Pendapat pertama dari mayoritas ulama (seperti imam Malik, imam Syafii, imam Ahmad) tentang hukum aqiqah adalah sunnah (mustahab). Pendapat ini sifatnya paling kuat dibandingkan pendapat-pendapat lain. Jadi, ulama menjelaskan bahwa aqiqah itu hukumnya sunnah muakkad, yaitu sunnah yang harus diutamakan. Dalam artian, apabila seseorang mampu (mempunyai harta yang cukup) maka dianjurkan mengaqiqah anaknya saat masih bayi. Sedangkan untuk orang yang tidak mampu maka aqiqah boleh ditinggalkan.

2. Wajib

“Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama.” (HR Ahmad)

Dengan berpatokan pada hadist diatas, beberapa ulama (seperti Imam Laits dan Hasan Al-Bashri) berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah wajib untuk dilakukan. Mereka menafsirkan dalil diatas bahwa seorang anak tidak bisa memberikan syafaat kepada orang tuanya sebelum mereka diaqiqah, maka itu hukumnya menjadi wajib. Namun demikian, pendapat ini dianggap sangat lemah dan ditolak oleh sebagian besar ulama.

Dalil Dasar Aqiqah

Terdapat beberapa dalil yang menjelaskan tentang sunnahnya melakukan aqiqah bagi seorang bayi yang baru dilahirkan. Di antaranya yaitu:

Dari Samurah bin Jundab dia berkata , Rasulullah bersabda. : “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadits shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad , Ad Darimi)

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, Rasulullah bersabda : “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata : Rasulullah bersabda : “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.” (Hadist Riwayat Ahmad , Thabrani dan al-Baihaqi)

Dari Aisyah dia berkata, Rasulullah bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” (Hadits Riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, Rasulullah bersabda. : “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” (Hadits Riwayat Abu Dawud, Nasa’I, Ahmad)

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda : “Menaqiqahi Hasan dan Husein dengan satu kambing dan satu kambing kibas.” (HR Abu Dawud)

Tata Cara Pelaksanan Aqiqah

Ilustrasi Syarat Kambing Aqiqah
Ilustrasi Syarat Kambing Aqiqah, Sumber : wajibbaca.com

Pelaksaan aqiqah tidak hanya sekedar memotong hewan sembelihan. Namun, terdapat syarat dan ketentuan tertentu yang harus diikuti berdasarkan dalil-dalil agama. Berikut ini tata cara pelaksaan aqiqah sesuai syariat yang harus diperhatikan.

1. Waktu Pelaksanaan

Waktu aqiqah yang paling diutamakan adalah pada hari ke-7 setelah kelahiran si bayi. Acara aqiqah juga dibarengi dengan pemberian nama bayi dan pencukuran rambut. Pendapat ini didasari oleh hadist:

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur habis 1 rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Ahmad)

Menurut ulama golongan Malikiyah, apabila orang tua tidak mengaqiqah anaknya hingga melebihi hari ke-7, maka tanggung jawabnya untuk mengaqiqah menjadi gugur. Singkat kata, aqiqah hanya boleh dilakukan di hari ke-7.

Golongan ulama Hambali memiliki pendapat berbeda dari Malikiyah. Mereka berpendapat bahwa aqiqah tidak harus dilakukan di hari ke-7. Apabila orang tua belum bisa melakukan aqiqah di hari-7, maka boleh mengundurnya hingga hari ke-14 atau ke-21. Pendapat ini didasari oleh dalil:

“Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya.” (HR Baihaqi dan Thabrani).

Menurut ulama Syafi’iyah, aqiqah boleh dikerjakan kapan saja. Baik di hari ke-7, ke-14, ke-21 ataupun hari-hari sesudahnya. Asalkan anak tersebut belum baligh. Apabila usia anak telah mencapai baligh, maka tanggung jawab aqiqah oleh orang tua menjadi gugur.

2. Jenis dan Syarat Hewan Aqiqah

Untuk jenis hewan yang akan digunakan untuk aqiqah ialah hewan ternak, yaitu domba atau kambing. Tidak ada tuntunan yang mengatakan jenis kelaminnya. Sedangkan syarat-syarat pemilihan hewannya, kurang lebih sama dengan pemilihan hewan untuk kurban.

Hewan harus sehat jasmaninya, tidak boleh cacat, boleh betina ataupun jantan, bukan hewan curian, apabila Kambing, usianya harus minimal 1 tahun (memasuki tahun ke-2) dan apabila Domba, usianya harus minimal 6 bulan (memasuki tahun ke-7).

3. Jumlah Kambing Aqiqah

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” (Hadits Riwayat Abu Dawud, Nasa’I, Ahmad)

Dari hadist diatas telah jelas disebutkan bahwa syarat kambing aqiqah untuk anak laki-laki diharuskan 2 ekor kambing. Sedangkan anak perempuan cukup 1 ekor kambing.

Sunnah saat Aqiqah

Ilustrasi Pelaksanaan Aqiqah
Ilustrasi Pelaksanaan Aqiqah, Sumber : Damainesia

Dalam kitab Fathul Qarib, Al-Ghazi menjelaskan bahwa terdapat sunnah-sunnah yang sebaiknya dilakukan saat aqiqah, yaitu:

Memberikan nama pada anak di hari ke-7, tepatnya saat aqiqah. Alangkah indahnya jika kita memberi nama untuk buah hati kita dengan nama-nama yang Islami, mencukur rambut si bayi, dan bersedakah sesuai dengan berat timbangan rambut yang dipotong

Hidangan Aqiqah

Hewan yang disembelih saat aqiqah hendaknya diolah atau dimasak terlebih dahulu menjadi hidangan siap santap. Setelah itu, makanan tersebut boleh dibagikan-bagikan kepada orang lain. Yang lebih utama adalah kerabat dan tetangga.

Demikianlah ulasan mengenai syarat kambing aqiqah yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan aqiqah. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda. Simak artikel seputar aqiqah lainnya di sini.

Persiapan Aqiqah : Hal Yang Perlu Diperhatikan!

Persiapan Aqiqah : Hal Yang Perlu Diperhatikan!

Aqiqah merupakan suatu ibadah yang dilaksanakan dengan menyembelih hewan qurban sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas kelahiran anak. Pelaksanaan aqiqah menurut syariat Islam apabila yang dilahirkan adalah bayi laki-laki maka dibutuhkan 2 ekor kambing. Untuk anak perempuan 1 ekor kambing. Meskipun begitu, aqiqah diberlakukan bagi yang mempunyai kemampuan saja. Diperlukan banyak hal persiapan aqiqah agar ibadah aqiqah dapat berjalan dengan lancar.

Pelaksanaan ibadah aqiqah disunahkan pada hari ketujuh kelahiran bayi sebagaimana berpatokan pada hadits berikut, “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi nama.” (HR. Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Apabila tidak sempat melaksanakannya pada hari ketujuh, maka bisa diganti pada hari ke empat belas. Dan bila tidak bisa hari ke empat belas, bisa pada hari keduapuluh satu. Tetapi bila tidak bisa dilakukan di hari-hari tersebut, tidak masalah dilakukan di hari lain karena hari-hari tersebut merupakan hari yang disunnahkan.

Persiapan Aqiqah

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum aqiqah dan penjelasan tentang persiapan aqiqah yang perlu diperhatikan

1. Membuat Rencana Anggaran

Ilustrasi Rencana Anggaran
Ilustrasi Rencana Anggaran, Sumber : FI Group

Untuk dapat merencanakan anggaran dengan baik, maka ada baiknya Anda merencanakan detailnya dengan membuat jadwal penyelenggaraan aqiqah. Anda bisa merencanakannya melalui hari perkiraan lahir bayi.

Acara Aqiqahyang sesuai anjuran agama Islam, dianjurkan untuk dilaksanakan pada hari ke-7, ke-14 dan ke-21 setelah kelahiran. Atau bisa juga di hari yang lain, selama si anak belum melewati masa baligh-nya.

Dengan merencanakan tanggal pelaksanaan aqiqah, maka Anda pun akan lebih mudah untuk menjabarkan keperluan lain. Dengan begitu, Anda akan lebih mungkin memenuhi anggaran biaya yang Anda perlukan, karena ada jangka waktunya.

2. Memilih Lembaga Aqiqah

Kebanyakan orang kalau untuk urusan aqiqah akan mempercayakan kepada lembaga aqiqah di sekitaran domisili. Hal ini akan lebih mudah dan praktis serta tidak keluar dari koridor syar’i. Tetapi hal yang paling penting diperhatikan adalah kualitas masakan dan teknis pelaksanaan ibadah aqiqah dari lembaga tersebut.

Meskipun begitu, walaupun lebih ribet di beberapa wilayah pedesaan masih dijumpai pelaksanaan aqiqah dilaksanakan pihak keluarga dibantu oleh kerabat dan tetangga mulai dari membeli kambing sampai mendistribusikan ke tetangga. Hal ini dikarenakan masih lekatnya budaya kekeluargaan dan gotong-royong di pedesaan.

3. Menetukan Konsep Pelaksanaan

Untuk memandu pelaksanaan aqiqah perlu dipersiapkan seorang Ustadz. Anda bisa membuat janji dengan salah satu ustadz atau bisa juga dengan mencari lembaga aqiqah yang sudah menyediakan fasilitas ustadz dalam paket aqiqahnya. Disarankan juga untuk mencari ustadz yang bersahaja dan disenangi banyak jamaah.

4. Menyiapkan Alat Cukur Rambut

Ilustrasi Pelaksanaan Aqiqah
Ilustrasi Pelaksanaan Aqiqah, Sumber : Damainesia

Dalam acara aqiqah akan dibarengi dengan mencukur rambut bayi. Hal ini dilakukan secara simbolis saja, jadi bisa dicukur sedikit atau semuanya sampai botak. Peralatan yang perlu dipersiapkan antara lain, gunting dengan hiasan pita, atau mesin cukur dan tempat menyimpan rambut dari batok kelapa atau nampan.

Gunting atau alat cukur rambut yang Anda pilih bisa yang berbahan stainless steel. Bahan ini dikenal anti karat sehingga bisa lebih nyaman dalam penggunaannya. Tidak hanya itu, bahan stainless steel biasa juga digunakan untuk perabotan rumah tangga sampai keranda jenazah.

5. Menyiapkan Sound System dan Dekorasi

Kalau Anda mengundang banyak orang maka perlu dipersiapkan tenda dan sound system. Tak lupa juga menyiapkan dekorasi rumah agar acara aqiqah lebih seru. Misalnya dengan menyiapkan dekorasi dengan tema hijau dengan hiasan bunga-bunga seperti taman syurga. Masih banyak inspirasi dekorasi lain yang mudah Anda pelajari di berbagai sumber.

6. Menyiapkan Box Bayi

Dalam acara aqiqah, setiap tamu tentu ingin melihat bayi yang di aqiqah. Untuk itu perlu menyediakan box bayi yang telah dihias sebelumnya agar bayi merasa nyaman dan tamu undangan pun mudah melihatnya. Agar lebih irit budget, Anda bisa menyewa box bayi punya teman atau tetangga.

7. Membuat Undangan dan Olahan Makanan

Menu Masakan Kambing, sumber ig : lakhbirsinghchahal
Menu Masakan Kambing, Sumber ig @lakhbirsinghchahal

Undangan sebagai salah satu persiapan untuk acara aqiqah. Untuk desainnya sendiri bisa disesuaikan dengan tema dekorasi. Undangan bisa disebar dalam bentuk e-card agar lebih hemat biaya. Untuk urusan makanan pastikan makanan olahan kambing seperti gulai dan sate terhidang secara rapi dan bersih.

Untuk olahan makanan tidak melulu harus dalam bentuk gulai, bisa juga membuat makanan aqiqah dengan citarasa tradisional. Jadi , Andabisa berkreasi dengan menu. Selain itu, bisa dilengkapi dengan menu pendamping lain seperti nasi kuning, bakso atau soto. Tak lupa juga bagi tuan rumah yang ingin menghidangkan makanan penutup bisa menambahkan menu seperti es buah atau minuman dingin.

Demikianlah ulasan mengenai persiapan aqiqah yang bisa menjadi referensi bagi Anda untuk melaksanakan aqiqah si buah hati. Jangan lupa untuk berkonsultasi pada jasa aqiqah perihal tentang penyembelihan dan masakan daging kambing aqiqah.

Bagi Anda yang berdomisili di Purwokerto dan sekitarnya, bisa datang ke Padi Aqiqah. Yang nantinya akan memberikan penjelasan lebih rinci untuk peringatan aqiqah yang akan dilaksanakan. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda.

Open chat