Terkait Aqiqah diri sendiri, maka perlu dipahami bahwa permasalahan ini memang biasanya terjadi. Oleh karena tidak semua anak memiliki kondisi yang sama di masa kecilnya. Namun, bagi para orang tua yang baru saja dikaruniai anak dari Allah SWT, menurut pedoman yang telah ada, hukum melaksanakan aqiqah adalah sebuah anjuran. Agar tidak perlu terjadi hal-hal seperti orang yang belum pernah diaqiqahkan. Hal ini sebagaimana yang disampaikan didalam hadis :
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa saalam : Dari Samurah bin
Jundab dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Semua anak bayi
tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih
hewan, diberi nama dan dicukur rambutnya”. (HR. Abu Dawud (2838),
Tirmidzi (91552), Nasa’I (7166), Ibnu Majah (3165), Ahmad (5/7-8,
17-18, 22), dan Ad Darimi (2/81)).
Akan tetapi jika pada waktu saat 7 hari kelahiran kita sendiri merasa belum pernah diaqiqahkan oleh orang tua kita terutama ayah, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus Aqiqah diri sendiri? Atau tidak usah melakukan aqiqah untuk diri kita. Bagaimanakah hukumnya? Jika ingin tahu, simaklah penjelasan dibawah ini dengan baik agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai pembahasan ini.
Aqiqah diri sendiri
Pembahasan terkait aqiqah bagi diri sendiri ini memang sangat dikelirukan oleh sebagian masyarakat yang sering bertanya-tanya. Boleh gak sih jika kita mengaqiqahkan diri kita sendiri. Baik dalam pembelian hewan qurbannya atau proses aqiqahnya berlangsung?
Jawabannya adalah boleh. Mengapa demikian? Sebab, Rasulullah SAW.
Juga mengaqiqahkan dirinya sendirinya sendiri sejak Rosul diangkat
menjadi Nabi. Akan tetapi, hadis ini dho’if alias tidak kuat.
Berikut ini penggalan hadisnya :
ان النبي
صلى الله عليه وسلم عق عن نفسه بعد ما بعث
نبيا
Yang artinya : Nabi SAW. Mengaqiqahi dirinya sendiri setelah ia
diutus sebagai Nabi. (HR. Al-Baihaqi 9:300)
Banyak perdebatan masalah penggalan hadis diatas, salah satunya
disampaikan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ (8:250) , berkata
bahwa hadis ini adalah hadis batil. Sedangkan Al-Baihaqi mengatakan
bahwa hadis ini adalah hadis yang munkar. Jadi banyak pendapat yang
tidak setuju dengan hadis ini.
Karena aqiqah adalah salah satu tanggung jawab para ayah untuk mengaqiqahkan anaknya. Kita kembali kepada tujuan aqiqah bahwa, aqiqah adalah salah satu ucapan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Yang telah menganugerahi keturunan sebagai pelengkap didalam keluarganya. Dan ayahlah yang bertanggung jawab akan aqiqah, bukan ibu, saudara, maupun diri kita sendiri.
Pendapat para ulama terkait aqiqah diri sendiri
Pedoman Aqiqah, sumber : Suara Muslim
Muhammad bin Qosim Al-Ghozzi adalah penulis Kitab Fathul Qorib
didalamnya terdapat pendapat Mazhab Syafi’i yang mengatakan bahwa :
Aqiqah tidaklah luput jika diakhirkan setelah itu. Jika aqiqah
diakhirkan hingga baligh, maka gugurlah tanggung jawab aqiqah dari
orang tua terhadap anak. Adapun setelah baligh, anak punya pilihan
bisa mengaqiqahi dirinya sendiri.
jadi, jika si anak sudah baligh belum juga diaqiqahkan oleh orang
tuanya, maka orang tua sudah tidak ada kewajiban untuk mengaqiqahkan
anaknya, tanggung jawabnya gugur untuk mengaqiqahkan anaknya. Jika
seorang anak sudah baligh dia berhak untuk mengaqiqahkan dirinya
sendiri.
Ada ulama yang menyetujui pendapat bahwa jika kita belum pernah
diaqiqahkan oleh orang tua kita maka kita dianjurkan untuk
mengaqiqahkan diri kita sendiri seperti Ibnu Sirin.
Ibnu Sirin berkata :
لو أعلم أنه
لم يعق عني لعققت عن نفسي
Artinya : “seandainya aku tahu bahwa aku belum diaqiqahi, maka
aku akan mengaqiqahkan diriku sendiri.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan
Mushonnaf, 8: 235-236. Sanadnya shahih kata syaikh Al-Albani dalam As
Silsilah Ash Shahihah no.2726).
Sedangkan Imam Malik bertentangan dengan pendapat diatas,
menyatakan bahwa jika masih kecil belum di aqiqahkan maka, tidak usah
diaqiqahkan juga tidak apa-apa sebab aqiqah hanyalah sebagai satu
simbol kebiasaan umat islam dan hukumnya sunnah muakkad.
Imam Malik menyatakan bahwa yang belum aqiqah mereka tidak
mengaqiqahi dirinya sendiri setelah masuk islam. (Al-Mudawanah
Al-Kubro karya Imam Malik dengan riwayat Sahnun dari Ibnu Qosim,5:
243. Dinukil dari Fathul Qarib, 2: 252).
Tidak perlu mengaqiqahkan diri sendiri. Berikut perkataannya :
tidak perlu menaqiqahi diri sendiri karena hadis yang membicarakan
hal tersebut dho’if. Bisa kita lihat, apakah di zaman jahiliyah
para sahabat Rasulullah SAW. Mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah
masuk islam? tentunya tidak.
Kesimpulan
Begitulah beberapa pendapat terkait pelaksanaan aqiqah bagi diri sendiri. Tujuannya agar tidak ada kesalah pahaman. Sebab bisa saja terjadi pertentangan, oleh karena kebolehan diatas merujuk kepada hadis dho’if. Namun kami secara pribadi memasukkan hadis dho’if sebagai landasan apabila tidak terdapat dalil lainnya yang lebih kuat daripada dalil tersebut.
Sehingga di sini terdapat dua aspek yang dapat kita pahami. Yaitu
bagaimana memahami hukum dan melihat pendapat yang paling tepat di
ambil jika terdapat beberapa pendapat yang berbeda. Lebih dari itu,
dari semua pendapat, tidak ada yang mewajibkan, tidak pula ada yang
mengharamkan.
Sedangkan jika dibahas menurut hukum aqiqah sendiri, adalah
sunnah, maka aslinya, saat tidak dilaksanakan bahkan hingga sudah
dewasa ternyata tidak menyebabkan dosa. Sehingga bagaimanapun
perbedaannya, untuk memahami hal ini bisa dikembalikan kepada hukum
aqiqah asal yaitu saat masih berusia 7 hari setelah kelahiran.
Demikian ulasan dan pendapat kami yang kami dasari dengan landasan
yang kami sampaikan diatas. Amalan ibadah individual ini memang
dikembalikan kepada individunya masing-masing. Semoga ulasan ini
dapat memberikan pencerahan kepada kita semua. Mohon maaf apabila
terjadi kesalahan. Wallahu a’lam.
Kehamilan merupakan sebuah anugerah bagi para Ibu. Karena Allah SWT telah mempercayakan amanah yang luar biasa sehingga bertambah kedekatannya kepada Allah SWT. Setiap kali ibu menjaga bayi dalam kandungan hingga lahir, kemudian membesarkannya, begitu juga mengalir pahala yang besar untuk menjadi tabungan amal yang akan dihisab oleh Allah SWT di akhirat kelak.
Menjaga bayi dalam kandungan atau janin bukanlah hal yang tidak
mungkin. Karena keberadaan janin merupakan keajaiban tersendiri dari
Allah SWT. Janin, meskipun masih di dalam kandungan, dapat merespon
aktivitas yang dilakukan oleh ibunya. Karenanya, merawat bayi bahkan
termasuk mendidik bayi yang masih dalam kandungan ternyata dapat
dilakukan.
Pedoman Islam Bagi Bayi Dalam Kandungan
Merawat bayi mulai berada di perut hingga terlahir ke dunia adalah
salah satu tugas bagi orang tuanya. Yang bertanggung jawab atas bayi
bukan hanya ibu, ayah pun harus turun ikut serta merawat si bayi agar
tumbuh dengan baik. Untuk merawat bayi, tentunya ada cara-cara
tertentu untuk dilakukan oleh sepasang suami istri.
Merawat bayi sejak masih di janin adalah hal yang harus dilakukan,
sebab sang janin yang masih berada di dalam perut sudah dapat
merespons apa yang ada diluar. Selain merawat dari tubuh ibunya
seperti memberikan sang ibu nutrisi yang cukup, lingkungan sekitar
pun berpengaruh kepada janin.
Di dalam islam sendiri dianjurkan untuk para orang tua menjaga dan
merawat janin. Anjuran tersebut terdapat pada sunnah, ilmu
pengetahuan dari para guru besar islam dan bersumber dari ilmu kajian
kedokteran. Lantas bagaimana pedoman Islam untuk merawat bayi yang
masih di dalam kandungan?
1. Memberikan Gizi yang Cukup
Jika orang tua menginginkan keturunannya tumbuh sehat dianjurkan untuk merawat bayi dalam kandungan menurut Islam, salah satunya dengan memberikan nutrisi yang cukup untuk Ibu hamil, dengan memberikan asupan nutrisi yang cukup dapat membantu pertumbuhan sel, otak, bagian tubuh janin, serta menghindarkan dari kecacatan dan keguguran pada janin.
2. Berikan Rizki yang Halal
Selama seorang ibu mengandung ada beberapa anjuran makanan yang harus dikonsumsi dan ada juga yang harus dihindari. Hal yang penting dikonsumsi selama kehamilan pertama adalah kehalalan makanannya. Seorang ibu harus mengetahui makanan yang dibeli dari sang ayah, apakah uang yang dipakai halal atau tidak.
Jika uang yang dipakai untuk membeli makanan kepada istri tidak
halal, maka akan berpengaruh kepada janin. Setiap makanan yang masuk
ke perut ibu hamil, maka makanan tersebut akan menjadi darah daging
di tubuh sang bayi dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kelak
ketika lahir.
Sebaliknya, jika sang ayah menafkahi ibu dan bayi yang ada di
dalam kandungan bayi dengan cara yang halal. Maka akan berdampak
bagus pada perkembangan janin hingga janin yang ada di kandungan sang
ibu akan memiliki jiwa yang bagus.
Bayi Dalam Kandungan, sumber : Mathabah.org
3. Giat Melakukan Ibadah
Selain memberikan nutisi yang cukup, memberikan nafkah yang halal,
ibu dan ayah dari calon bayi itu harus beribadah dengan baik. Sering
membaca Al-Qur’an dan melakukan hal kebajikan adalah salah satu
cara untuk perkembangan bayi. Di dalam solat, pastinya membaca
Al-Qur’an merupakan salah satu menambah perkembangan bayi menjadi
cerdas.
Selain solat dan membaca Al-Qur’an membuat perkembangan bayi bagus, salah satu otak bayi akan menjadi cerdas. Indra pendengaran bayi merupakan yang digunakan oleh janin. Jika orang tua menginginkan bayinya tumbuh menjadi seorang Hafidz dan Hafidzah langkah ini sangat bagus.
Mengajak janin berkomunikasi salah satu arah, sebab janin yang
berada di kandungan mendengar dan terkadang merespons dengan
tendangan-tendangan lembut ke perut ibunya. Air ketuban penghantar
suara yang bagus sehingga janin dapat mendengar suara detak jantung,
aliran darah atau udara, di usus.
Dan tentu janin bisa mendengar suara keras yang mengejutkannya.
Jadi, ibu, ayah dan keluarga dapat berkomunikasi secara lembut dengan
janin. Melindungi janin dari hal-hal yang membahayakan seperti
mendeteksi jika ada gangguan pada pertumbuhannya harus segera
diatasi.
Jika masih belum bisa membaca Al Quran dengan baik, bisa juga
dengan memperdengarkan murottal melalui alat seperti mp3 player.
Intinya, respon pendengaran dari janin ini harus dimanfaatkan agar
sejak masih janin, sang bayi memahami sunnatullahnya sebagai manusia
yaitu melakukan ibadah dan menjadi hamba Allah yang baik.
4. Menjauhkan Diri Dari Maksiat dan Keburukan
Jauhkan diri dari kemaksiatan. Karena akan menjaga bayi dalam
kandungan sekaligus mendidiknya. Meskipun sebenarnya bukan kita
sendiri yang melakukannya, namun bisa saja kita berada di tempat atau
lingkungan yang tidak selalu aman dan jauh dari maksiat. Begitu juga
jauhkan Ibu dan bayi dalam kandungan dari lingkungan yang tidak
sehat.
Beberapa contoh kondisi lingkungan yang tidak sehat seperti
lingkungan para perokok, lingkungan yang berada di tempat yang ribut
dan kondisi lingkungan lainnya yang tidak kondusif bagi Ibu hamil dan
janin. Upaya untuk menjaga diri ini, sedikit banyaknya akan memiliki
dampak positif bagi diri dan bayi hingga lahir dan besar nantinya.
Itu dia informasi terkait beberapa tips yang bisa dilakukan untuk
menjaga dan mendidik bayi dalam kandungan. Karena bayi adalah karunia
dari Allah SWT yang akan menghiasi hidup orang tua sekaligus juga
bisa menjadi jalan untuk mendapatkan pahala yang besar oleh karena
membesarkan dan mendidiknya dengan baik.
Bagi orang tua yang
baru saja dikaruniai anak, maka melaksanakan aqiqah adalah salah satu
ibadah yang dianjurkan. Tata cara melaksanakan aqiqah juga harus
diperhatikan, agar pelaksanaan ibadah ini dapat diterima oleh Allah
SWT. Karena hanya ibadah yang sesuai tuntunan saja yang dapat
diterima oleh Allah SWT, sang penentu syariat.
Aqiqah adalah wujud
rasa syukur atas karunia keturunan yang Allah SWT anugerahkan kepada
kita. Rasa syukur ini diwujudkan dengan melaksanakan aqiqah
sebagaimana tata cara yang telah ditentukan, yaitu sesuai sunnah
Rasulullah SAW. Sebelum masa Rasulullah, aqiqah sudah dilaksanakan
sesuai kepercayaan orang arab pada masanya. Untuk mensucikan kembali
ibadah ini, Rasulullah SAW kemudian mencontohkan tata caranya kepada
kita.
Saat ini pelaksanaan aqiqah dilaksanakan dengan berbagai cara. Dari semua cara yang dilakukan, sebenarnya ada beberapa tata pelaksanaan yang tetap harus ada sebagai ibadah yang sebenarnya. Sedangkan yang lainnya hanyalah tambahan yang menjadi teknis acara saja. Bagaimana tata cara melaksanakan aqiqah yang sesuai dengan sunnah?
Para Ulama fikih
mazhab Syafi’I dan pendapat Masyhur Mazhab Hanbali menyatakan bahwa
Aqiqah hukumnya Sunnah Muakkadah (Sunnah yang sangat dianjurkan untuk
melakukannya). (Nihayatul Muhtaj (8/137), Al-Majmu’ dan Imam
An-Nawawi (8/435), Mathalib Ulin Nuha (2/488), Mughnil Muhtaz
(4/293)).
Mereka berdalil
dengan hadist Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa saalam : Dari
Samurah bin Jundab dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Semua
anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya
disembelih hewan, diberi nama dan dicukur rambutnya”. (HR. Abu
Dawud (2838), Tirmidzi (91552), Nasa’I (7166), Ibnu Majah (3165),
Ahmad (5/7-8, 17-18, 22), dan Ad Darimi (2/81)).
Maka kami memahami,
bahwa menurut hemat kami, aqiqah hukumnya adalah sunnah muakkad.
Maknanya adalah sunnah yang dikuatkan. Kami juga memahami bisa saja
terdapat perbedaan pendapat dalam permasalah ini, namun kami tetap
mengambil pendapat ini sesuai pilihan kami.
Jika aqiqah hukumnya
sunnah muakkad, maka saat berniat melaksanakannya tetap wajib untuk
melakukannya sesuai dengan yang dicontohkan. Karena apabila tidak
sesuai tuntunan, ibadah sunnah ini juga tidak sah dilaksanakan, atau
dihukumi tidak bernilai ibadah sama sekali.
Mencukur Rambut Bayi, sumber : www.babatpost.com
Tata Cara
Pelaksanaan Aqiqah
Jika melaksanakan aqiqah sesuai tuntunan perlu dilakukan agar menjadi ibadah yang bernilai pahala, maka Anda perlu mengetahui tata caranya. Berikut beberapa tata cara melaksanakan aqiqah yang praktis :
1. Memberikan Nama
Anak
Bagi sebagian
referensi, memberikan nama anak dijadikan tata cara yang kedua
setelah menyembelih kambing. Hal ini sah-sah saja. Namun, saat
menyembelih kambing, sebenarnya nama anak disebutkan didalam doanya.
Sehingga kami mengambil pendapat bahwa mempersiapkan nama anak
didahulukan dalam tata cara ini.
Meskipun begitu, saat pelaksanaan acara aqiqah yang diadakan di tempat-tempat khusus yang dirancang jasa kontraktor jogja atau pembagian masakan aqiqah kepada kerabat-lah nama anak kemudian diketahui oleh khalayak dan didoakan. Jadi, apabila sudah dipersiapkan sebelumnya, akan lebih mudah untuk melengkapi pelaksanaan ibadah aqiqah ini. Sehingga saat penyembelihan, nama anak sudah disebutkan dalam doa penyembelihan hewan.
2. Menyembelih
Kambing
Hewan aqiqah yang paling dianjurkan adalah kambing. Baik jantan maupun betina. Hal ini berdasarkan hadits :
Dari Ummu Kurz ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda ‘Untuk seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk anak perempuan adalah seekor kambing. Tidak mengapa bagi kalian apakah ia kambing jantan atau betina’.” (HR. Abu Dawud no. 2834-2835)
Sebagian referensi
menyatakan terdapat beberapa hewan ternak lainnya yang juga dapat
dijadikan hewan aqiqah. Namun kami mengambil pendapat bahwa hewan
aqiqah adalah kambing dan yang sejenisnya seperti domba.
Bismillah Allahu Akbar Allaahumma minka wa laka, haadzihi ‘aqiiqotu fulaan (Dengan Nama Allah, Allah adalah Yang Terbesar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqoh fulaan).
3. Memasak Daging
Kambing
Memasak daging aqiqah menjadi tata cara pelaksanaan aqiqah oleh karena jumhur Ulama sepakat bahwa daging hewan aqiqah dibagikan dalam keadaan telah dimasak. Berikut pendapatnya :
“Dianjurkan
untuk tidak membagikan daging hewan aqiqah dalam keadaan mentah, akan
tetapi dimasak terlebih dahulu kemudian diantarkan kepada orang fakir
dengan nampan.” (Imam Al-Baghawi dalam kitab Atahzib)
Selain itu memang hal ini berlandaskan dalil :
Hadits Aisyah r.a: “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)
Jadi melalui Aisyah r.a. bahwa Nabi menganjurkan hewan aqiqah dibagikan dalam keadaan telah dimasak.
4. Mencukur Rambut
Bayi
Biasanya aktivitas
mencukur rambut bayi ini dilakukan dengan pemberian nama sekaligus.
Namun intinya, baik mencukur rambut bayi dan memberikan nama
dilakukan pada hari ketujuh. Sekaligus menyembelih hewan aqiqah.
Hukum mencukur rambut bayi ini menurut kalangan Ulama hukumnya
sunnah.
Hewan Aqiqah, sumber : www.tiredearth.com
5. Memakan Sebagian
Daging
Disebut memakan
sebagian daging oleh karena dianjurkan untuk bersedekah juga dengan
hewan aqiqah pada saat hari ketujuh yaitu pada saat pelaksanaan
aqiqah. Hal ini berdasarkan,
Hadits Aisyah r.a:
“Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor
kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya.
Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”.
(HR al-Bayhaqi)
Jadi daging hewan
aqiqah dimakan sebagian dan sebagian lagi dibagikan sebagaimana
pembagian hewan qurban.
Itu dia tata cara pelaksanaan aqiqah. Semua hal yang terdapat pada tata cara ini bukan merupakan urutan, namun bisa juga diurutkan demikian. Inti pelaksanaan aqiqah adalah menyembelih hewan, memberi nama dan mencukur rambut sebagai kewajiban orang tua kepada anak yang baru lahir pada hari ketujuhnya.
Simak berbagai ulasan terkait aqiqah, kehamilan, ibu dan anak di halaman aqiqah purwokerto.
Memiliki karunia
terindah, melahirkan seorang bayi merupakan hal yang paling
dinantikan dengan penuh harapan dan usaha yang kuat bagi seorang ibu.
Begitulah Allah SWT menunjukkan arti hidup kepada manusia. Namun
tidak hanya sampai di situ, bayi yang baru lahir juga harus
mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan
anak-anak yang relatif sudah bisa berekspresi, berbicara, bersikap,
bayi yang baru lahir hanya mampu menangis. Bayi yang baru saja
dilahirkan masih tidak memiliki kemampuan sebagaimana manusia yang
normal. Sehingga penting bagi setiap orang tua untuk memberikan
perhatian ekstra kepada bayinya.
Lantas apa yang perlu dilakukan? Tentu saja menggali informasi. Sebagai orang tua kita dituntut untuk belajar dan terus belajar demi memberikan yang terbaik bagi si kecil hingga di besar. Maka, khusus edisi kali ini, aqiqah purwokerto akan memberikan beberapa informasi yang perlu dipahami setiap orang tua tentang bayi yang baru lahir.
Informasi ini kami
kutip dari halaman dan artikel yang penulisnya adalah seorang dokter.
Dari beberapa artikel, kami meringkasnya menjadi satu bagian yang
mudah untuk dibaca. Namun tentu saja, segala informasi yang telah
kami rangkum ini tidak terlepas dari ketidak telitian dan ketidak
akuratan. Jadi, silahkan berkonsultasi lebih jauh kepada ahli dan
dokter yang ada di sekitar Anda.
Fakta Tentang Bayi
Yang Baru Lahir
Bagaimana menghadapi bayi yang baru lahir? Yang jelas, pasti berbeda dengan anak-anak, apalagi orang yang sudah dewasa. Sebagai orang tua, kita harus mengerti apa yang perlu kita lakukan kepada bayi kita. Sebelum itu, ada beberapa informasi tentang bayi saat baru saja dilahirkan sehingga bisa menjadi acuan saat melakukan perawatan kepada bayi.
1. Jam Tidur Bayi
Ternyata bayi tidur
selama 16 hingga 18 jam dalam sehari. Namun hal ini merupakan
akumulasi. Sebenarnya bayi tidur 1-2 jam kemudian bangun dan tidur
kembali, terus menerus demikian, sehingga dalam sehari saat
dijumlahkan bisa mencapai 18 jam. Jadi kepada orang tua, tidak perlu
panik, malah harus membiarkan bayi tetap memenuhi jam tidurnya.
Rentang waktu 1-2
jam ini juga harus dibersamai oleh sang ibu. Karena pada malam hari
bayi juga hanya tidur maksimal 2 jam, terbangun, kemudian tidur
kembali. Bagi orang tua, tentu mengikuti ritme ini agak sedikit
sulit, karena terbiasa tidur berjam-jam saat malam hari.
Menurut
dokter, terkait tidur bayi di malam hari ini diakali. Usahakan saat
siang hari bayi diajak berinteraksi sehingga lebih sering terjaga.
Jika bisa dilakukan, maka tidurnya di malam hari akan relatif lebih
panjang, tidak sebentar-bentar terjaga. Tetapi jangan memaksakan
apabila bayi kita tidak mau untuk tetap terjaga di siang hari. Orang
tua harus mengikuti ritme sang buah hati.
Bayi Yang Baru Lahir, sumber ig @peccopecopeko
2. Waktu Menyusui
Sumber makanan
terbaik bagi bayi yang baru lahir sampai beberapa bulan adalah air
susu ibu. Pada masa awal-awal ini, jangan sekalipun memberikan asupan
lain selain ASI. Bahkan hanya air putih saja tidak disarankan, cukup
ASI saja.
Hal ini dikarenakan
sistem pencernaan bayi yang masih baru. Belum tumbuh dan dapat
menyesuaikan dengan berbagai jenis makanan. Sang ibu perlu memahami,
bahwa pemberian ASI ini disarankan setiap 1-2 jam sekali. Usahakan
agar tidak kekurangan atau terlambat saat memberikan ASI, karena
aktivitas ini sebagaimana aktivitas makan pada orang dewasa.
3. Gumoh
Gumoh terlihat
seperti sebagaimana orang dewasa muntah. Pada bayi, gumoh terjadi
saat setelah menyusui, yaitu memuntahkan susu yang sudah masuk ke
dalam perut. Mengapa hal ini dapat terjadi?
Sebagaimana
diketahui, lambung dan usus kecil masih berukuran relatif kecil dan
kerjanya belum sebagaimana anak-anak atau orang dewasa. Sehingga saat
bayi meminum ASI, sangat berpotensi terjadi gumoh apabila
kekenyangan.
Maka, hindari
pemberian ASI yang berlebihan. Jika tidak mengerti cara memastikannya
jangan khawatir. Normalnya sang bayi sendiri yang memahami saat sudah
kenyang. Selanjutnya, untuk menghindari gumoh, setelah diberikan ASI,
posisikan bayi tegak dan pada kondisi perut yang tidak terjepit
hingga bayi bersendawa.
4. Pakaian Bayi
Bayi masih tidak
mampu mengatur suhu tubuhnya. Oleh karena pada bayi belum terdapat
lemak yang cukup untuk menjaga suhu tubuh agar tetap normal.
Karenanya, bayi biasanya dipakaikan pakaian yang dapat menjaga
kehangatan tubuhnya. Jadi, suhu normal untuk bayi adalah hangat.
Pakaian Bayi
Dalam beberapa
kondisi, bayi dibedong terutama saat setelah dimandikan. Apabila
masih kurang hangat, bisa ditambah dengan penutup kepala. Namun orang
tua juga harus mengerti dengan kondisi lingkungan. Bisa saja kondisi
lingkungan juga panas, sehingga pakaian bayi harus menyesuaikan.
5. Kondisi Kulit
Bayi
Kulit bayi yang baru
lahir sangat sensitif. Sehingga jauhkan bayi dari berbagai sentuhan
yang kasar dari benda atau dari sentuhan kita sendiri. Perhatikan
juga pakaian bayi, agar dipakaikan pakaian yang lembut yang tidak
menyebabkan goresan apalagi luka pada bayi.
Biasanya yang sering
terjadi adalah ruam popok. Ruam popok adalah lecet pada bagian
sekitar kelamin karena dipakaikan popok. Maka, sebisa mungkin
lindungi bayi Anda dari hal ini. Meskipun menggunakan popok dapat
memudahkan kita, namun kesehatan kulit bayi perlu diutamakan.
6. Pencernaan Bayi
Bayi yang baru lahir
sering langsung buang air saat setelah disusui. Hal ini tidak perlu
dicemaskan oleh karena normal terjadi. Berbeda dengan orang dewasa
yang hari memeriksakan diri jika terus menerus buang air, pada bayi
hal ini normal.
Kemudian perhatikan
warna feses bayi. Karena hanya sekedar mengkonsumsi ASI, maka warna
feses bayi biasanya berwarna hitam kehijauan. Jika warnanya berbeda,
dan perbedaannya mencolok, segera konsultasikan kepada bidan atau
dokter yang ada di sekitar Anda.
7. Tali Pusar
Tali pusar pada bayi
bagaikan bekas sisa operasi pada orang dewasa. Saat bayi baru lahir,
rawatlah tali pusarnya hingga terputus secara alami. Jika terjadi
pembengkakan atau keanehan, segera konsultasikan kepada dokter.
Karena dimungkinkan terjadi infeksi.
8. Cara Mengerti
Bayi
Bayi yang baru lahir
dapat mendengar suara, mencium aroma dan melihat. Namun semuanya
tentu saja masih terbatas, belum sebagaimana manusia normal. Saat
bayi mendengar suara, mencium aroma dan melihat sesuatu yang berbeda,
maka biasanya dia akan memberi tanggapan dengan tangisan. Yang paling
dikenal bayi adalah ibunya sendiri, karena bayi terbiasa mendengar,
mencium aroma dan melihat ibunya.
Semoga beberapa informasi ini bermanfaat. Lakukan penelitian lebih jauh tentang kebenarannya, semoga dapat membantu Anda. Simak ulasan menarik lainnya terkait nutrisi ibu hamil di halaman aqiqah purwokerto.
Saat hamil, sang ibu
sangat perlu untuk memperhatikan nutrisi makanannya. Karena nutrisi
ibu hamil berbeda dengan nutrisi yang dibutuhkan wanita saat tidak
dalam kondisi sedang hamil. Namun masih banyak para ibu yang tidak
betul-betul mendapatkan informasi terkait bagaimana nutrisi ibu hamil
yang telah disarankan oleh banyak pakar kesehatan ibu hamil.
Selama ini yang sering dipahami oleh para ibu adalah nutrisi bagi mereka saat hamil dapat dipenuhi dengan makan berlipat ganda. Jika biasanya saat tidak hamil makan dengan porsi tertentu, maka saat hamil mereka maka 2 kali porsi harian. Ternyata ada hal yang harus diperhatikan lebih dari sekedar porsi yang dilipatgandakan.
Demi menjaga kandungan yang merupakan karunia dari Allah SWT, ada baiknya untuk membaca berbagai hal terkait informasi yang berhubungan dengan gizi ibu hamil. Serta jangan lupa bersyukur setelah kelahiran dengan merayakan ibadah aqiqah sesuai tuntunan Islam.
Pentingnya Asupan
Gizi Bagi Ibu Hamil
Nutrisi sangat
berhubungan dengan gizi. Apabila seseorang mengkonsumsi makanan
dengan nutrisi yang cukup, maka dia akan berpotensi memenuhi
kebutuhan gizi hariannya. Terlepas dari banyak atau sedikitnya porsi
makanan. Karena terkadang sebuah makanan memiliki nutrisi yang tinggi
meskipun dalam porsi yang sedikit.
Bagaimana dengan ibu
hamil, apa pentingnya mencukupi kebutuhan gizi melalui makanan
bernutrisi baginya? Kurangnya asupan nutrisi selama kehamilan dan
gaya hidup yang kurang baik, membuat janin berisiko lebih tinggi
mengalami gangguan, seperti berat badan lahir kurang, hambatan tumbuh
kembang, hingga cacat bawaan lahir pada bayi.
Sehingga memenuhi
asupan nutrisi sehingga gizi tercukupi bagi ibu hamil bukan semata
faktor diri sang ibu, namun juga dapat memberikan dampak positif bagi
sang bayi. Hanya dengan nutrisi yang cukup, mengkonsumsi makanan
bergizi dan melakukan gaya hidup yang baik maka baik sang ibu maupun
sang bayi akan sama-sama berpotensi untuk sehat dan normal selama
proses kehamilan hingga bayi lahir.
Ilustrasi Ibu Hamil, sumber : www.galamedianews.com
Perbedaan Jumlah
Nutrisi dan Jumlah Kalori
Nutrisi adalah
kandungan gizi sedangkan kalori adalah jumlah energi dari makanan.
Hal ini penting untuk diketahui. Karena sebagian orang memahami bahwa
cara mencukupi nutrisi adalah dengan makan sebanyak-banyaknya.
Ternyata tidak demikian.
Makanan jenis
tertentu seperti yang mengandung lemak dan gula yang tinggi memiliki
jumlah kalori yang tinggi pula meskipun hanya dikonsumsi dalam jumlah
porsi yang sedikit. Namun, makanan bernutrisi, khususnya nutrisi yang
dibutuhkan oleh ibu hamil terkadang harus dimakan sebanyak-banyaknya
namun kandungan kalorinya rendah.
Jadi, saat memakan
makanan dalam porsi yang besar, sudah pasti asupan kalori yang masuk
juga tinggi. Namun belum tentu memiliki nutrisi yang banyak. Contohya
saja memakan mie instan. Kalorinya sangat tinggi namun kandungan
nutrisinya sangat kecil. Sebaliknya, beberapa jenis sayur, meskipun
dikonsumsi dalam porsi yang besar bisa berpotensi memberikan gizi
yang banyak karena bernutrisi tinggi dan tidak berisiko apa-apa.
Pentingnya memahami
hal ini oleh karena terdapat risiko saat ibu hamil memakan makanan
dengan kalori yang tinggi. Makan secara berlebih selama kehamilan
dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan berlebih, yang pada
akhirnya dapat memicu hipertensi dan diabetes gestasional selama
kehamilan.
Nutrisi yang
Dibutuhkan Ibu Hamil
Saat hamil, agar
terus sehat dan terjaga hingga proses lahir maka ibu perlu
mengkonsumsi makanan yang bernutrisi. Sehingga bayi yang lahir juga
akan berpotensi normal dan mengalami pertumbuhan yang baik. Berikut
nutrisi yang dibutuhkan ibu hamil :
Ilustrasi Makanan Sehat Bernutrisi, sumber : Dream
1. Asam folat
Ibu hamil disarankan
untuk mengonsumsi asam folat sebanyak 400-600 mcg (mikrogram) per
hari selama kehamilan. Hal ini sangat penting karena asam folat yang
cukup bisa mencegah bayi mengalami cacat tabung saraf.
Selain dari suplemen
yang dianjurkan oleh dokter, ibu hamil juga dapat melengkapi
kebutuhan asam folat dengan mengonsumsi beragam jenis makanan,
seperti bayam, brokoli, kubis, jeruk, stroberi, roti gandum, dan ikan
salmon.
2. Protein
Beragam makanan
berprotein yang dapat dikonsumsi, antara lain kacang kedelai, daging
sapi, daging ayam, ikan, telur, atau susu dan produk olahannya,
seperti keju dan yoghurt. Mengkonsumsi makanan berprotein akan
membantu tumbuh kembang janin selama hamil.
3. Makanan berserat
Mengonsumsi makanan
berserat juga penting untuk dilakukan karena selain tinggi akan
kandungan nutrisi, konsumsi makanan berserat juga bisa mencegah
konstipasi dan wasir saat hamil.
Beberapa jenis
makanan berserat yang baik dikonsumsi selama kehamilan adalah buah
dan sayur, seperti kentang, tomat, brokoli, wortel, apel, dan jeruk.
4. Makanan
berkalsium
Jika Bumil ingin
pertumbuhan tulang dan gigi Si Kecil berjalan optimal, jangan lupa
untuk mengonsumsi makanan berkalsium. Contoh makanan yang mengandung
kalsium antara lain susu, keju, yoghurt, tahu, brokoli, dan kacang
almon.
5. Makanan berlemak
Selain membuatmu
bertenaga, asupan lemak juga dibutuhkan untuk membantu perkembangan
otak dan saraf pusat janin. Meski begitu, pilihlah makanan berlemak
yang sehat, seperti alpukat, ikan salmon, keju, minyak zaitun,
telur, dan kacang-kacangan.
Itu dia beberapa
informasi terkait nutrisi ibu hamil. Informasi ini disadur dari
artikel yang memberikan berbagai informasi kesehatan yang diawasi
oleh para dokter. Meskipun begitu, tetap disarankan untuk
berkonsultasi kepada dokter di sekitar Anda. Karena bisa jadi
kebutuhan gizi setiap ibu hamil akan berbeda sesuai dengan kriteria
masing-masing.
Semoga ulasan ini
dapat bermanfaat bagi Anda. Menjaga kehamilan bagi ibu merupakan
aktivitas ibadah serta bentuk penyaluran kasih sayang kepada buah
hati yang merupakan rizki dari Allah SWT. Jadi, berusahalah
semaksimal mungkin dan carilah berbagai informasi lainnya.
Jika membutuhkan informasi untuk pelaksanaan ibadah aqiqah, hubungi kami di aqiqah purwokerto. Kami melayani pemesanan aqiqah yang syar’i dan berkualitas. Silahkan berkonsultasi terlebih dahulu melalui nomor kontak yang tersedia. Boleh juga berikan pertanyaan, saran dan kritik pada kolom komentar.