Melahirkan bagi seorang Ibu adalah hal yang ditunggu sekaligus mendebarkan. Diantara pilihan melahirkan normal dan operasi caesar, melahirkan normal biasanya dipilih sebagai cara yang terbaik. Namun tidak semuanya sepakat demikian. Ada yang lebih memilih operasi caesar sebagai jalan untuk melahirkan. Meskipun dari pertimbangan biaya, melahirkan normal jauh lebih murah dibandingkan dengan operasi caesar.
Antara melahirkan normal dan operasi caesar tentu memiliki
perbedaan. Bahkan bisa dikatakan perbedaan yang signifikan, meskipun
sama-sama proses melahirkan. Terkadang sang Ibu tidak memiliki
pilihan, oleh karena kondisi kesehatan atau kondisi fisiknya, harus
melahirkan secara caesar.
Namun biasanya hal ini jarang terjadi. Kebanyakan Ibu sebenarnya bisa menentukan metode melahirkan yang dia lakukan apabila baru pertama kali. Berbeda kalau sudah melahirkan untuk yang kedua atau yang ketiga, biasanya proses lahiran yang pertama harus menjadi patokan. Nah, agar lebih memahami perbedaan melahirkan normal dan operasi caesar, simak ulasan yang berhasil dirangkum tim redaksi aqiqah Purwokerto berikut ini.
Melahirkan Normal
Dikutip dari halaman alodokter.com, Persalinan normal adalah cara alami melahirkan bayi melalui vagina tanpa pembedahan. Metode ini dianggap sebagai cara paling aman dan paling disarankan untuk kondisi kehamilan yang sehat. Ada beberapa keuntungan melahirkan normal, antara lain:
Proses pemulihan dan rawat inap di rumah sakit lebih cepat
Risiko munculnya masalah kesehatan pada bayi lebih sedikit
Mempercepat proses bonding antara ibu dan bayi
Jika di kemudian hari melahirkan lagi, proses persalinan
normal bisa lebih cepat dan singkat
Bisa melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) atau memberikan
ASI pada bayi segera setelah melahirkan
Sementara risiko melakukan persalinan normal adalah:
Terjadinya komplikasi tak terduga saat persalinan, misalnya
perdarahan hebat
Vagina harus dijahit jika robek atau digunting (episiotomi)
Bila ukuran bayi terlalu besar, ada kemungkinan memerlukan
bantuan persalinan, seperti vakum atau forceps
Kelelahan akibat proses persalinan yang lama dan sulit
Apabila kondisi ibu dan bayi dalam keadaan sehat dan tidak
memiliki faktor penyulit, maka cara melahirkan normal adalah yang
paling disarankan.
Metode melahirkan secara normal lebih menguntungkan bagi kesehatan si bayi, dikutip dari halaman hellosehat.com, berikut alasannya:
– Berkurangnya risiko masalah pernapasan selama proses
melahirkan
Menurut Dr. Bryant, Selama proses melahirkan secara normal, banyak
otot yang terlibat untuk memompa keluar cairan yang berada di
paru-paru si bayi. Hal ini mengakibatkan si bayi akan memiliki
kemungkinan lebih kecil untuk mengalami masalah pada pernapasan.
– Membangun sistem imunitas
Ketika masih berada di dalam rahim ibu, si bayi tinggal dalam
kondisi yang steril. Hal itu berbanding terbalik ketika si bayi dalam
proses dilahirkan, di mana bayi akan melewati vagina sang ibu yang
penuh dengan bakteri. Hal ini mengakibatkan bayi dapat membangun
sistem imunitas dari bakteri yang didapat dan memperkaya bakteri yang
berguna yang terdapat di dalam pencernaan si bayi.
Operasi Caesar
Bayi yang baru lahir, sumber : Diadona.id
Dikutip dari halaman alodokter.com, Operasi caesar dilakukan
dengan membuat sayatan melintang di perut dan rahim ibu. Ada beberapa
kelebihan dari persalinan melalui operasi caesar, antara lain:
Bisa memilih sendiri waktu persalinan (operasi caesar
elektif)
Menurunkan risiko cedera kelahiran, seperti distosia bahu
(tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan) atau janin
mengalami patah tulang
Menurunkan risiko terjadinya inkontinensia urine dan
prolaps organ panggul (turun peranakan)
Lebih dianjurkan untuk ibu hamil yang memiliki penyulit
atau komplikasi kehamilan
Meski memiliki keunggulan, metode persalinan caesar juga memiliki
kekurangan atau risiko, yaitu:
Proses pemulihan dan rawat inap di rumah sakit lebih lama dibandingkan persalinan normal
Luka operasi menimbulkan bekas luka dan rasa nyeri. Proses pemulihannya pun tergolong lama, bisa berminggu-minggu bahkan hingga beberapa bulan
Terbatas melakukan aktivitas selama setidaknya 6 minggu setelah operasi
Terjadinya komplikasi akibat anestesi, seperti mual, mengantuk, pusing, sakit kepala parah, hingga kerusakan saraf
Terjadinya komplikasi akibat operasi, seperti penyumbatan pembuluh darah, infeksi, perdarahan, hingga adhesi (tumbuhnya jaringan parut yang membuat organ di dalam perut menempel satu sama lain)
Kemungkinan kembali melakukan operasi caesar di proses persalinan selanjutnya
Plasenta previa di kehamilan selanjutnya
Biasanya operasi ini ditempuh karena persalinan normal berisiko
membahayakan keselamatan ibu dan bayinya. Berikut ini adalah beberapa
hal yang sering menjadi penyebab diperlukannya operasi caesar:
Ibu memiliki kondisi medis yang tidak memungkinkannya untuk melahirkan secara normal, misalnya diabetes, preeklamsia, herpes di jalan lahir, HIV, penyakit jantung, atau plasenta previa
Ibu akan melahirkan bayi kembar
Ukuran bayi cukup besar atau berada dalam posisi sungsang
Ibu memiliki panggul yang sempit
Proses pembukaan jalan lahir yang lambat
Pernah menjalani operasi caesar sebelumnya
Berbanding terbalik dengan bayi yang dilahirkan normal, bayi yang dilahirkan melalui operasi Caesar kemungkinan memiliki beberapa masalah kesehatan, dikutip dari halaman hellosehat.com, berikut diantara alasannya :
– Kemungkinan mengalami masalah pernapasan
Bayi yang dilahirkan melalui operasi Caesar memiliki
kemungkinan mengidap masalah pernapasan selama proses melahirkan atau
selama masa kanak-kanaknya kelak, di antaranya seperti penyakit asma.
– Kemungkinan mengalami obesitas
Beberapa studi mengindikasikan bahwa proses kelahiran secara
operasi Caesar mungkin dapat menyebabkan obesitas pada anak di masa
kanak- kanaknya atau bahkan sampai dewasa. Akan tetapi, belum ada
penelitian yang benar-benar bisa membuktikan hal ini.
Hipotesis yang dikemukakan saat ini adalah hal ini berhubungan
dengan faktor bahwa wanita yang obesitas atau mengidap diabetes akan
lebih besar kemungkinannya untuk menjalani operasi Caesar, sehingga
anak yang dilahirkan juga mungkin akan mengalami obesitas.
Itu dia beberapa informasi terkait perbedaan antara melahirkan normal dan operasi caesar. Semoga informasi ini dapat membantu para Ibu untuk mengambil pilihan yang lebih bijak. Simak juga informasi terkait nutrisi Ibu hamil di halaman padiaqiqah.com.
Bayi baru lahir harus diistimewakan perawatannya dibandingkan
anak-anak yang sudah relatif besar, yaitu pada masa kanak-kanak. Maka
perlu perhatian khusus tentang kondisi bayi dan perlu persiapan bagi
orang tua untuk merawat bayi yang baru lahir. Setelah memahami
kondisi bayi dengan baik dan memiliki persiapan, barulah aktivitas
merawat bayi dapat dilakukan dengan prima.
Panduan Merawat Bayi Baru Lahir
Merawat bayi pada umumnya tidaklah mudah, sebab jika kita
melakukan kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal. Jadi harus
menjaganya dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian. Berikut ini
beberapa hal yang dapat dilakukan dan diperhatiakn orang tua agar
dapat merawat bayi baru lahir dengan sebaik-baiknya.
1. Persiapkan Mental
Bayi memiliki kebutuhan berbeda dan siklus tidur yang berbeda
dengan manusia lain pada umumnya. Sehingga orang tua harus siap
dengan hal ini dengan cara mempersiapkan mental dan mengotrol emosi.
Sebab merawat bayi sangatlah melelahkan, bahkan sering bangun pada
malam hari. hal ini sangat sulit bagi orang tua yang masih baru.
Hilangkan rasa takut, dalam merawat bayi yang baru lahir sebaiknya
menjauhi sifat ini. Di dalam merawat bayi haruslah tenang seperti
menggantikan popoknya, menenangkan saat bayi sedang menangis dan
merasa tidak nyaman.
Awalnya memang sangat terkesan kaku bagi orang tua yang masih baru
melakukan hal ini. Tapi, semakin sering merawatnya, akan terbiasa
menghadapi bayi dalam kondisi apapun. Jadi, tidak usah merasa takut.
2. Menjaga Fisik
Selanjutnya para orang tua harus menjaga kondisi fisik, di dalam
merawat bayi sering dikaitkan dengan kurang tidur. Jadi bagi ibu,
hindari mengkonsumsi kafein atau makanan pengusir rasa kantuk salah
satunya adalah kopi. Karena bisa berpengaruh terhadap ASI. Bagi para
ibu, tetaplah konsumsi makanan yang sehat, minum yang cukup, pastikan
sang ibu menghirup udara yang segar seperti di pagi hari, di mana
udaranya belum tercampur oleh apapun.
Saat merawat bayi sebaiknya pekerjaan yang lain ditunda terlebih
dahulu, jangan terlalu memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang
biasa dilakukan sebelum melahirkan. Seperti membersihkan seisi rumah,
mencuci pakaian, bisa ditunda terlebih dahulu. Jadi jangan langsung
dikerjakan semua, karena hal tersebut akan membuat ibu drop.
Jadi sebaiknya para ibu menghemat energi dengan mengurangi
melakukan kegiatan yang biasa membutuhkan banyak waktu dalam
mengerjakannya. Seperti memasak, yang sebelum bayi lahir ibu selalu
menyiapkan makanan yang sangat sempurna untuk sang suami tercinta.
Karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan, bekerja samalah untuk
dapat tetap memenuhi kewajiban namun disesuaikan dengan kondisi fisik
oleh karena merawat bayi baru lahir.
3. Alternatif Menyusui
Bayi yang baru lahir kisaran berumur 2-3 sebaiknya disusui oleh
orang lain, karena saat itu susu sang ibu sangat kental dan sebaiknya
dicampur. Seperti kebiasaan yang dilakukan oleh orang arab, para ibu
mencari wanita suku badui untuk menyusui anaknya. Namun hal ini tidak
selalu terjadi. Sehingga sebelum melakukannya, perhatikan kondisi ASI
sang Ibu. Apabila baik-baik saja, maka hal ini tidak perlu dilakukan.
4. Menjaga Bayi dan Asupan Gizinya
Sebaiknya ketika anak berumur dibawah 3 bulan jangan dibawa keluar
dan dibawa berjalan jauh, karena bayi belum lama baru keluar dari
rahim ibunya. Lingkungan sekitar adalah lingkungan yang berbeda jauh
dengan rahim sang Ibu. Jadi kondisi si bayi masih terlalu lemah.
Perlu diketahui bahwa bayi baru lahir hanya mengkonsumsi susu
saja. Jika ingin diberikan makanan lain sebaiknya saat bayi sudah
mulai tumbuh gigi. Jika gigi sudah tumbuh, maka lambungnya pun mulai
kuat untuk diberikan makanan. Tentunya hal ini dilakukan bertahap.
Jika sang bayi mulai bisa berbicara sedikit demi sedikit, maka disarankan lidahnya diurut dengan madu dan garam. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan kelembaban berat ketika bicara. Jadi dengan diurut dengan madu dan garam, lidah sang bayi akan merasa lebih enteng jika ingin mengucap.
Bicara soal madu, ada banyak jenis lebah penghasil madu, mulai dari apis melivera hingga lebah trigona. Pelajari lebih lanjut soal perbedaan dan fungsinya sebelum memakaikan untuk adik bayi.
Sebaiknya bagi para orang tua muslim yang ingin memiliki anak yang sholih, ketika bayi sudah mulai berbicara, tuntunlah sedikit demi sedikit untuk mengucap kata laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah. Untuk membantu saat berbicara jika gigi sudah tumbuh, maka sebaiknya gusi bayi diurut dengan Zabadi dan minyak Samin.
5. Berdoa dan Perbanyak Beribadah
Setelah mengetahui fakta tentang bayi yang baru lahir, serta mengetahui beberapa hal yang perlu dilakukan, maka kita perlu menyadari bahwa merawat, mendidik, menjaga bayi kita adalah amanah dan merupakan ibadah. Dengan pemahaman ini setidaknya orang tua akan selalu terdorong untuk merawat bayinya sebaik dan semaksimal mungkin.
Allah SWT melalui para Rasul dan teladan-teladan orang-orang
shalih telah memberikan pelajaran bahwa anak merupakan investasi.
Investasi tidak instan karena hasil yang sifatnya jangka panjang.
Sekecil apapun usaha yang kita lakukan demi bayi yang Allah SWT
karuniakan kepada kita pasti akan berdampak pada hasil di masa yang
akan datang.
Titipkan cita-cita kita pada anak-anak untuk mereka raih dan
berikan seluruh hal yang kita punya sehingga akan menjadi bekal bagi
anak-anak kita kelak. Selamat berusaha, terus bersemangat dan raihlah
ridha Allah SWT.
Demikianlah ulasan tentang Merawat Bayi baru lahir dan cara-cara untuk yang harus dilakukan ketika bayi lahir. Semoga artikel di atas bermanfaat. Jangan lupa untuk bertanya atau meminta saran kepada ahli kesehatan baik dokter maupun bidan untuk selalu memantau tumbuh kembang bayi. Kunjungi terus halaman aqiqah Purwokerto.
Bagi orang tua yang baru saja dikaruniai seorang anak, dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah. Namun sejak lahir sudah diwajibkan bagi seorang ayah untuk memberikan nama bagi anaknya. Karena itu, panduan memberikan nama anak dalam Islam perlu menjadi acuan. Karena merupakan kewajiban yang harus ditunaikan sebaik mungkin.
Melaksanakan aqiqah sudah menjadi kebiasaan bagi para orang tua muslim di Indonesia dan berbagai belahan dunia lainnya. Dari kebiasaan ini, berkembang bisnis jasa aqiqah di Purwokerto dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memudahkan para orang tua yang seringkali masih repot saat merawat anak yang baru lahir.
Biasanya,
saat melaksanakan aqiqah inilah nama anak diresmikan dan diumumkan
oleh orang tuanya. Namun pemberian nama sudah dilakukan sejak awal
setelah kelahiran. Bagaimana sebenarnya pedoman untuk masalah
pemberian nama anak ini didalam Islam? Simak beberapa informasinya
berikut ini.
Memberikan
nama anak dalam Islam
Ada
beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan oleh orang tua terutama Ayah
saat memberikan nama kepada anak yang baru lahir. Hukum dalam
memberikan nama dalam Islam, pedoman dalam memilih nama, waktu dalam
memberikan nama dan informasi lainnya. Maka, sebelum buru-buru
menentukan, carilah berbagai informasi tersebut lebih dulu.
Hukum
memberikan nama
Memberikan
nama, dalam pandangan Islam hukumnya adalah wajib. Hal ini menurut
kesepakatan Ulama’. Di dalam Al Quran terdapat ayat yang
menerangkan tentang bagaimana Allah SWT memberikan nama kepada Nabi
atau anak seorang Nabi saat baru lahirnya. Seperti salah satunya ayat
berikut ini :
“Hai
Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan
seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah
memberikan nama seperti itu sebelumnya.” (Maryam : 7)
Bayi Yang Baru Lahir, sumber ig @peccopecopeko
Selain
ayat tersebut, terdapat hadits Rasulullah SAW yang menerangkan
tentang kewajiban orang tua. Salah satunya adalah memberikan nama.
Berikut kutipannya :
“Sesungguhnya
diantara kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya
menulis, memberikan nama yang baik, dan menikahkannya bila telah
dewasa.” (HR. Ibnu Najar)
Nama
memang menjadi identitas yang sudah sejak dulu ada dalam peradaban
manusia. Maka, Islam memiliki pedoman bagaimana seseorang menentukan
atau memilih nama. Sehingga seorang anak dapat memiliki identitas
yang baik dan cocok.
Cara
memilih nama
Dari
seluruh pedoman memilih nama dalam Islam, tim redaksi Aqiqah
Purwokerto melihat bahwa intinya, nama harus merupakan sebutan yang
baik. Karena peradaban Islam memiliki bahasa arab sebagai
landasannya, termasuk sumber pedoman dalam Islam yakni Al Quran dan
As Sunnah – pun berbahasa arab, maka nama anak-anak muslim biasanya
berbahasa arab.
Mengambil
nama berbahasa arab sudah pasti harus memiliki paling tidak sedikit
pemahaman bahasa arab. Jangan sampai nama anak merupakan kata kerja,
kata penghubung atau kata-kata lainnya yang tidak bisa bermakna
sebagai sebuah nama. Maka, bagi orang tua, ketahuilah sedikit
khazanah bahasa arab yang luas dan indah ini. Jika tidak tahu, bisa
bertanya kepada para Ustadz atau ahli bahasa arab lainnya.
Ibnu
Umar mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya nama
kalian yang paling disukai oleh Allah ialah Abdullah dan
Abdurrahman.” (HR. Muslim)
Dari
hadits ini memberikan pedoman setidaknya nama yang diberikan
mengandung nama yang paling disukai oleh Allah SWT menurut sabda
Rasulullah SAW diatas.
Lebih
dari itu, para ulama biasanya menyarankan agar nama juga mengandung
harapan dan kebaikan, berasal dari nama para shahabat Rasulullah SAW
yang shalih, nama para Syuhada’, nama para Nabi Allah SWT dan
beberapa saran lainnya.
Selain
itu, hindari nama-nama yang tidak tepat, salah satunya adalah
nama-nama yang tidak disukai oleh Allah SWT karena mengandung unsur
yang mempersekutukan Allah SWT. Seperti dalam kutipan hadits berikut
ini :
Samurah
bin Jundub mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jangan
sekali-kali memberi nama budak kalian dengan nama Yasar (mudah atau
kaya), Najih (sukses). Juga jangan diberi nama Aflah (beruntung).
Sebab jika kamu bertanya ‘Apakah ada dia?’ lalu (saat) dia tidak
ada, maka akan dijawab ‘tidak ada’ (kemudahan, kekayaan,
kesuksesan, keberuntungan, pent.). Sungguh semua itu hanya empat
nama. (HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hindari
pula nama-nama yang artinya buruk, nama hewan, nama berhala, nama
berbahasa asing yang tidak diketahui asalnya dan lain-lain.
Potong Rambut Saat Aqiqah, sumber : aqiqahalkautsar.com
Waktu
memberikan nama
Menurut
As Sunnah, waktu yang terbaik memberikan nama pada anak adalah pada
saat baru lahir, pada hari ketiga sampai ketujuh dan pada hari
ketujuh. Namun kami tidak bisa mencantumkan semua dalilnya. Hanya
saja kami mendapati salah satu hadits dimana Rasulullah SAW
memberikan nama pada anaknya saat baru lahir berikut ini.
Dari
Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda : “Semalam
telah lahir anakku dan kuberi nama seperti ayahku, yaitu Ibrahim.”
(HR. Muslim).
Hadits ini memberikan informasi bahwa Rasulullah SAW memberikan nama kepada anaknya saat baru lahir. Namun tidak menganjurkan apalagi mewajibkan demikian. Sehingga hal ini merupakan kebolehan.
Lebih dari itu, terdapat hadits yang berkaitan tentang aqiqah yang menganjurkan orang tua untuk beraqiqah dan memberikan nama di hari yang ketujuh.
Dari Samurah bin Jundab dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan, diberi nama dan dicukur rambutnya”. (HR. Abu Dawud (2838), Tirmidzi (91552), Nasa’I (7166), Ibnu Majah (3165), Ahmad (5/7-8, 17-18, 22), dan Ad Darimi (2/81)).
Itulah yang mendasari pendapat kami tentang waktu pemberian nama anak dalam Islam.
Itu
dia beberapa informasi yang bisa menjadi sedikit pedoman terkait
bagaimana memilih nama yang baik bagi anak. Semoga ringkasan ini bisa
bermanfaat bagi para orang tua sekalian. Simak terus informasi
seputar aqiqah lainnya di halaman padiaqiqah.com. Terimakasih
Menyambut kelahiran buah hati adalah hal yang ditunggu sekaligus
dicemaskan. Namun Allah SWT telah memberikan petunjuk tentang apa
yang perlu dilakukan. Salah satunya adalah persiapan untuk
melaksanakan aqiqah, mempersiapkan nama dan lainnya. Nah, adakah
ketentuan yang berbeda untuk hewan aqiqah anak laki-laki dan
perempuan?
Dengan teknologi kedokteran yang ada, memprediksi waktu kelahiran,
mengetahui jenis kelamin dan beberapa informasi kehamilan lainnya
dapat diketahui. Nah, informasi yang dapat diketahui sebelum
kelahiran ini dapat bermanfaat salah satunya untuk mempersiapkan
berbagai kebutuhan sang buah hati saat setelah kelahiran nantinya.
Ketentuan Aqiqah Anak Laki-laki
Pada pedoman aqiqah dalam Islam, ada sedikit perbedaan terkait ketentuan aqiqah anak laki-laki dan perempuan. Namun perbedaan ini terkadang juga bisa diabaikan. Karena beberapa pedoman memang memberikan kemudahan apabila tidak mampu memenuhinya. Berikut ini beberapa ketentuan yang perlu dipahami sebelum melaksanakan aqiqah:
1. Waktu Pelaksanaan Aqiqah
Banyak para orang tua yang bertanya-tanya, kapan waktu terbaik
melakukan aqiqah untuk anak? pada dasarnya waktu melakukan aqiqah
bukan saklek pada hari ketujuh setelah kelahiran karena pada hari ke
14 ataupun 21 juga diperbolehkan. Hal ini diperkuat dengan salah satu
riwayat.
Dari Abu Buraidah R.A. Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh,
atau keempat belas, atau kedua puluh satunya (HR. Baihaqi dan
Thabrani). Jadi dari riwayat tersebut dapat disimpulkan bahwa
pelaksanaan aqiqah itu mulai dari 7 dan kelipatannya yaitu 14 dan 21.
2. Jumlah Hewan Aqiqah
Poin berikutnya yang tak kalah penting yaitu memahami berapa
jumlah kambing untuk kelahiran si kecil. Seperti yang telah
dijelaskan di atas bahwa kambing aqiqah anak laki-laki dengan
perempuan cukup berbeda jumlahnya. Untuk anak laki-laki disunnahkan
dengan 2 ekor kambing sementara anak perempuan dengan satu ekor
kambing.
Salah satu riwayat yang menyatakan hal serupa yaitu Dari Amr Bin
Syu’aib dari Ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing)
karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk anak laki-laki
dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing. (HR Abu
Dawud, Nasa’i, Ahmad).
3. Jenis Hewan Aqiqah
Setelah mengetahui jumlah hewan aqiqah untuk anak yang baru lahir,
berikutnya mengetahui apa saja jenis hewan yang diperbolehkan untuk
aqiqah. Hewan yang disembelih saat aqiqah bisa berupa kambing maupun
domba, untuk jenis kelamin dari hewan tersebut tak dipermasalahkan
baik jantan ataupun betina.
Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Aisyah R.A. yang
berkata “Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah
dari anak laki-laki dua domba yang sepadan dan dari anak perempuan
satu ekor.” (Shahih riwayat At Tirmidzi).
Masih ada beberapa ketentuan lainnya yang perlu diketahui untuk
syarat hewan untuk aqiqah. Ada beberapa poin yang harus dipenuhi saat
memilih hewan untuk aqiqah si kecil. Hal ini tak sesulit yang
dipikirkan. Untuk mengetahui lebih lanjut, maka tetap mengikuti
penjelasan artikel ini hingga selesai dan tuntas.
Jenis Dan Syarat Hewan Untuk Aqiqah Si Kecil
Berikut ini uraian mengenai jenis dan syarat hewan aqiqah untuk
bayi yang baru lahir:
Jenis hewan yang diperlukan
untuk aqiqah berasal dari mamalia kecil seperti kambing dan domba.
Untuk kategori kelamin
kambing abik jantang maupun betina sama saja tidak menjadi masalah.
Umur hewan untuk aqiqah
sama dengan ketentuan hewan qurban, dengan domba maupun biri-biri
cukup satu tahun.
Kambing Aqiqah, sumber ig @lensproducties
Jadi itulah penjelasan mengenai kambing aqiqah anak laki-laki
dengan dua ekor dan anak perempuan dengan satu ekor kambing saja.
Saat pelaksanaan aqiqah, sunnah lainnya yang bisa dilakukan yaitu
mencukur rambut si kecil dan memberikan nama.
Berapa Pembagian Porsi dari 1 Ekor Kambing?
Salah satu anjuran bagi pelaksanaan aqiqah adalah memakan sebagian
masakan hewan dan membagikannya kepada kerabat. Bagi para orang tua
yang jarang berurusan dengan ternak kambing dan baru pertama kali
melaksanakan aqiqah biasanya kebingungan terkait pembagian ini,
terutama pada jumlah porsinya. Untuk memudahkan, yang pertama kali
bisa Anda lakukan adalah menghubungi jasa aqiqah di Purwokerto.
Jika sudah memilih jasa aqiqah Purwokerto yang sesuai syariat Islam, hal kedua yang harus diperhatikan adalah tentang berapa porsi gulai yang bisa dihasilkan dari 1 kambing. Untuk ini, sebenarnya tidak ada angka khusus karena ini tergantung dari besarnya kambing yang disembelih. Selain itu, besar kecilnya porsi juga turut mempengaruhi jumlah yang bisa didapatkan.
Hanya saja, pada umumnya 1 kambing bisa menghasilkan 70 porsi
gulai plus 250 tusuk sate. Bisa dikatakan, ini paket hemat. Adapun
untuk paket aqiqah dengan kambing ukuran lebih besar bisa lebih besar
pula jumlah porsinya. Bahkan, jika hanya menggunakan porsi gulai
saja, tanpa sate, bisa lebih banyak gulai yang dihasilkan. Di sini,
Anda bisa menentukan menu apa yang akan dipilih apakah gulai saja,
sate saja atau kombinasi keduanya.
Jika kita tidak menghitung jumlah porsinya, maka bisa saja jumlah
aqiqah yang dibagikan orang. Misal, jumlah tetangga, teman, keluarga
dan kerabat yang akan kita bagikan aqiqah ini adalah 80 orang.
Sedangkan paket hemat aqiqah menghasilkan 70 porsi gulai plus sate.
Jika terdapat permintaan khusus, bisa dikonsultasikan kepada jasa
aqiqah. Karena terdapat paket dan layanan yang bisa disesuaikan.
Itu dia berbagai informasi yang terkait hewan aqiqah anak laki-laki serta pembagian porsi aqiqah setiap 1 ekor kambing. Semoga informasi ini bermanfaat.
Bolehkah berpuasa saat hamil? Pertanyaan ini sering terdengar oleh
para ibu muslimah yang memiliki keistimewaan ibadah puasa setiap
tahunnya. Atau puasa wajib karena harus mengganti puasa dan puasa
nadzar. Tetapi jika hamil dan pada saat bersamaan ingin melakukan
ibadah puasa, apakah asupan nutrisi janin bisa terganggu?
Ini semua tentu tergantung kondisi fisik ibu hamil dan janin. Bagi
sebagian orang mungkin tidak masalah, namun bagi sebagian yang lain
mungkin bisa menimbulkan suatu risiko. Jika pun ibu hamil tetap
menjalankan ibadah puasa saat hamil, sebaiknya tetap memperhatikan
kebutuhan nutrisi ibu hamil saat berpuasa. Jika ibu hamil tidak
sanggup, solusinya bisa dengan tidak puasa. Apabila puasanya wajib,
harus diganti diluar bulan puasa atau dengan membayar fidyah.
Puasa Tidak Mengganggu Kehamilan
Puasa saat trimester awal kehamilan tergolong sedikit beresiko
bagi ibu hamil. Ketika hamil pada trimester awal, tubuh akan banyak
membutuhkan nutrisi-nutrisi penting untuk mendukung pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam kandungan. Hamil muda merupakan saat
dibutuhkannya berbagai asupan nutrisi dalam jumlah yang cukup banyak.
Sehingga apabila menjalankan puasa dalam kondisi seperti ini,
dikhawatirkan ibu hamil memiliki risiko memiliki bayi dengan berat
badan lahir rendah atau BBLR. Di samping itu dehidrasi selama puasa
juga dapat mempengaruhi penurunan fungsi ginjal dan berkurangnya
jumlah cairan yang mengelilingi janin.
Namun, beberapa penelitian melaporkan bahwasanya puasa saat hamil
muda tidak mempengaruhi janin dan kehamilan. Contohnya seperti
penelitian di Iran tahun 2010 yang menyatakan bahwa wanita hamil muda
yang melakukan puasa dengan asupan gizi yang tepat, tidak akan
memberi dampak pada pertumbuhan bayi dan waktu kelahiran bayi.
Berikut tips bagi ibu hamil yang ingin mencukupi nutrisi ketika
berpuasa.
Tips Sehat Puasa Saat Hamil
Kehamilan merupakan anugerah dari Allah SWT. Maka, Allah SWT pasti memberikan pedoman tentang bagaimana menghadapinya. Termasuk apabila diharuskan berpuasa saat sedang hamil. Dari sisi kesehatan, untuk menjaga nutrisi selama kehamilan, lakukan tips yang berhasil dirangkum tim redaksi aqiqah Purwokerto berikut ini.
1. Minum banyak air
Ketika berpuasa pastikan ibu hamil meminum banyak air saat sahur
dan berbuka puasa. Dibutuhkan setidaknya dua liter air setiap hari
atau sekitar 8 gelas agar kebutuhan air tercukupi. Ini sangat penting
untuk menjaga ibu hamil terhindar dari dehidrasi saat berpuasa.
Hindari minum minuman yang mengandung kafein, seperti kopi, teh,
dan minuman bersoda. Karena minuman tersebut dapat memicu hilangnya
cairan tubuh. Nah, apabila muncul gejala-gejala sakit akibat
kekurangan cairan tubuh, seperti pusing dan lemas, sebaiknya batalkan
puasa dan segera minum banyak air. Karena dalam kondisi ini ibu hamil
boleh membatalkan puasanya.
Makanan Bergizi, sumber : Primasari Catering
2. Makan makanan bergizi
Pastikan ibu hamil mengkonsumsi berbagai macam makanan yang
bergizi, sehingga kebutuhan karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan
mineral dapat terpenuhi dengan baik. Ibu hamil muda disarankan untuk
mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran sebanyak 5 porsi per hari untuk
bisa mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral.
Pastikan juga ibu hamil juga mengkonsumsi makanan sumber zat besi, folat, kalsium, dan vitamin A yang bisa diperoleh dari daging, susu, dan sayuran hijau. Zat-zat gizi tersebut sangat penting untuk memenuhi nutrisi ibu hamil muda saat berpuasa. Terutama di masa-masa awal kehamilan. Berbagai jenis makanan tersebut bisa diolah sesuai selera ibu hamil.
Hindari mengkonsumsi makanan dengan kadar gula yang tergolong
tinggi namun sedikit sekali zat gizi. Makanan ini hanya akan
menimbulkan rasa kenyang tapi tidak mencukupi asupan gizi ibu hamil
dan janin. Setidaknya ibu hamil perlu makan sebanyak 4 sampai 5 kali
di saat waktu buka hingga sahur agar kebutuhan nutrisi ibu hamil
dapat terpenuhi.
3. Cukup istirahat
Agar ibu hamil tidak merasa kelelahan dan untuk menghemat energi
saat berpuasa, disarankan untuk memperbanyak waktu istirahat.
Diperlukan tidur siang bagi ibu hamil selama beberapa jam, agar dapat
mencegah lemas saat berpuasa. Usahakan untuk tidur lebih banyak
dibandingkan saat tidak hamil. Hindari agar tidak kekurangan tidur
akibat begadang.
4. Hindari Stress dan Pekerjaan Berat
Selain menjaga kebugaran fisik dan menambah asupan gizi, tentu
saja ibu hamil harus menghindari stress dan pekerjaan yang berat.
Terkadang, para ibu tidak begitu memperhatikan masalah mentalnya saat
hamil. Lebih dari itu, saat merasa stress, ibu hamil suka
melampiaskannya pada aktivitas yang beresiko.
Maka, hindari stress. Stress adalah tekanan oleh karena berbagai
hal yang sedang dihadapi. Untuk menghindarinya tentu saja dengan
lebih bijak dan berusaha memahami. Berbagai permasalahan saat
dihadapi dengan bijak serta dapat dipahami, maka stress dapat
dihindari. Sebab biasanya stress disebabkan oleh berbagai ketakutan
atau kekhawatiran.
Begitu juga hindari pekerjaan yang berat. Memang sebagian ibu saat
ini banyak yang bekerja. Terkadang pekerjaannya bisa saja merupakan
pekerjaan yang berat. Di saat tidak berpuasa saja, pekerjaan yang
berat bisa beresiko, terlebih lagi pada saat hamil. Maka sebisa
mungkin hindari hal ini.
Stress dan pekerjaan berat meskipun bukan terkait dengan fisik,
namun dapat mempengaruhi fisik. Karena fisik yang sehat biasanya
dibarengi dengan mental yang baik. Jadi, usahakan agar menjaga mental
saat hamil dan berpuasa, agar keduanya dapat dijalankan dengan
maksimal.
Itu dia beberapa tips terkait berpuasa bagi ibu hamil. Semoga tips ini dapat membantu para ibu sekalian. Periksakan terlebih dahulu kondisi fisik Anda dan tanyakan kepada dokter terkait kebolehan berpuasa saat hamil agar lebih yakin.