Informasi Seputar Melahirkan Normal dan Operasi Caesar

Informasi Seputar Melahirkan Normal dan Operasi Caesar

Melahirkan bagi seorang Ibu adalah hal yang ditunggu sekaligus mendebarkan. Diantara pilihan melahirkan normal dan operasi caesar, melahirkan normal biasanya dipilih sebagai cara yang terbaik. Namun tidak semuanya sepakat demikian. Ada yang lebih memilih operasi caesar sebagai jalan untuk melahirkan. Meskipun dari pertimbangan biaya, melahirkan normal jauh lebih murah dibandingkan dengan operasi caesar.

Antara melahirkan normal dan operasi caesar tentu memiliki perbedaan. Bahkan bisa dikatakan perbedaan yang signifikan, meskipun sama-sama proses melahirkan. Terkadang sang Ibu tidak memiliki pilihan, oleh karena kondisi kesehatan atau kondisi fisiknya, harus melahirkan secara caesar.

Namun biasanya hal ini jarang terjadi. Kebanyakan Ibu sebenarnya bisa menentukan metode melahirkan yang dia lakukan apabila baru pertama kali. Berbeda kalau sudah melahirkan untuk yang kedua atau yang ketiga, biasanya proses lahiran yang pertama harus menjadi patokan. Nah, agar lebih memahami perbedaan melahirkan normal dan operasi caesar, simak ulasan yang berhasil dirangkum tim redaksi aqiqah Purwokerto berikut ini.

Melahirkan Normal

Dikutip dari halaman alodokter.com, Persalinan normal adalah cara alami melahirkan bayi melalui vagina tanpa pembedahan. Metode ini dianggap sebagai cara paling aman dan paling disarankan untuk kondisi kehamilan yang sehat. Ada beberapa keuntungan melahirkan normal, antara lain:

  1. Proses pemulihan dan rawat inap di rumah sakit lebih cepat
  2. Risiko munculnya masalah kesehatan pada bayi lebih sedikit
  3. Mempercepat proses bonding antara ibu dan bayi
  4. Jika di kemudian hari melahirkan lagi, proses persalinan normal bisa lebih cepat dan singkat
  5. Bisa melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) atau memberikan ASI pada bayi segera setelah melahirkan

Sementara risiko melakukan persalinan normal adalah:

  1. Terjadinya komplikasi tak terduga saat persalinan, misalnya perdarahan hebat
  2. Vagina harus dijahit jika robek atau digunting (episiotomi)
  3. Bila ukuran bayi terlalu besar, ada kemungkinan memerlukan bantuan persalinan, seperti vakum atau forceps
  4. Kelelahan akibat proses persalinan yang lama dan sulit

Apabila kondisi ibu dan bayi dalam keadaan sehat dan tidak memiliki faktor penyulit, maka cara melahirkan normal adalah yang paling disarankan.

Metode melahirkan secara normal lebih menguntungkan bagi kesehatan si bayi, dikutip dari halaman hellosehat.com, berikut alasannya:

– Berkurangnya risiko masalah pernapasan selama proses melahirkan

Menurut Dr. Bryant, Selama proses melahirkan secara normal, banyak otot yang terlibat untuk memompa keluar cairan yang berada di paru-paru si bayi. Hal ini mengakibatkan si bayi akan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami masalah pada pernapasan.

– Membangun sistem imunitas

Ketika masih berada di dalam rahim ibu, si bayi tinggal dalam kondisi yang steril. Hal itu berbanding terbalik ketika si bayi dalam proses dilahirkan, di mana bayi akan melewati vagina sang ibu yang penuh dengan bakteri. Hal ini mengakibatkan bayi dapat membangun sistem imunitas dari bakteri yang didapat dan memperkaya bakteri yang berguna yang terdapat di dalam pencernaan si bayi.

Operasi Caesar

Bayi yang baru lahir, sumber : Diadona.id
Bayi yang baru lahir, sumber : Diadona.id

Dikutip dari halaman alodokter.com, Operasi caesar dilakukan dengan membuat sayatan melintang di perut dan rahim ibu. Ada beberapa kelebihan dari persalinan melalui operasi caesar, antara lain:

  1. Bisa memilih sendiri waktu persalinan (operasi caesar elektif)
  2. Menurunkan risiko cedera kelahiran, seperti distosia bahu (tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan) atau janin mengalami patah tulang
  3. Menurunkan risiko terjadinya inkontinensia urine dan prolaps organ panggul (turun peranakan)
  4. Lebih dianjurkan untuk ibu hamil yang memiliki penyulit atau komplikasi kehamilan

Meski memiliki keunggulan, metode persalinan caesar juga memiliki kekurangan atau risiko, yaitu:

  1. Proses pemulihan dan rawat inap di rumah sakit lebih lama dibandingkan persalinan normal
  2. Luka operasi menimbulkan bekas luka dan rasa nyeri. Proses pemulihannya pun tergolong lama, bisa berminggu-minggu bahkan hingga beberapa bulan
  3. Terbatas melakukan aktivitas selama setidaknya 6 minggu setelah operasi
  4. Terjadinya komplikasi akibat anestesi, seperti mual, mengantuk, pusing, sakit kepala parah, hingga kerusakan saraf
  5. Terjadinya komplikasi akibat operasi, seperti penyumbatan pembuluh darah, infeksi, perdarahan, hingga adhesi (tumbuhnya jaringan parut yang membuat organ di dalam perut menempel satu sama lain)
  6. Kemungkinan kembali melakukan operasi caesar di proses persalinan selanjutnya
  7. Plasenta previa di kehamilan selanjutnya

Biasanya operasi ini ditempuh karena persalinan normal berisiko membahayakan keselamatan ibu dan bayinya. Berikut ini adalah beberapa hal yang sering menjadi penyebab diperlukannya operasi caesar:

  1. Ibu memiliki kondisi medis yang tidak memungkinkannya untuk melahirkan secara normal, misalnya diabetes, preeklamsia, herpes di jalan lahir, HIV, penyakit jantung, atau plasenta previa
  2. Ibu akan melahirkan bayi kembar
  3. Ukuran bayi cukup besar atau berada dalam posisi sungsang
  4. Ibu memiliki panggul yang sempit
  5. Proses pembukaan jalan lahir yang lambat
  6. Pernah menjalani operasi caesar sebelumnya

Berbanding terbalik dengan bayi yang dilahirkan normal, bayi yang dilahirkan melalui operasi Caesar kemungkinan memiliki beberapa masalah kesehatan, dikutip dari halaman hellosehat.com, berikut diantara alasannya :

– Kemungkinan mengalami masalah pernapasan

Bayi yang dilahirkan melalui operasi Caesar memiliki kemungkinan mengidap masalah pernapasan selama proses melahirkan atau selama masa kanak-kanaknya kelak, di antaranya seperti penyakit asma.

banner iklan promo paket aqiqah spesial dari Padi Aqiqah

– Kemungkinan mengalami obesitas

Beberapa studi mengindikasikan bahwa proses kelahiran secara operasi Caesar mungkin dapat menyebabkan obesitas pada anak di masa kanak- kanaknya atau bahkan sampai dewasa. Akan tetapi, belum ada penelitian yang benar-benar bisa membuktikan hal ini.

Hipotesis yang dikemukakan saat ini adalah hal ini berhubungan dengan faktor bahwa wanita yang obesitas atau mengidap diabetes akan lebih besar kemungkinannya untuk menjalani operasi Caesar, sehingga anak yang dilahirkan juga mungkin akan mengalami obesitas.

Itu dia beberapa informasi terkait perbedaan antara melahirkan normal dan operasi caesar. Semoga informasi ini dapat membantu para Ibu untuk mengambil pilihan yang lebih bijak. Simak juga informasi terkait nutrisi Ibu hamil di halaman padiaqiqah.com.

Panduan Praktis Merawat Bayi Baru Lahir

Panduan Praktis Merawat Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir harus diistimewakan perawatannya dibandingkan anak-anak yang sudah relatif besar, yaitu pada masa kanak-kanak. Maka perlu perhatian khusus tentang kondisi bayi dan perlu persiapan bagi orang tua untuk merawat bayi yang baru lahir. Setelah memahami kondisi bayi dengan baik dan memiliki persiapan, barulah aktivitas merawat bayi dapat dilakukan dengan prima.

Panduan Merawat Bayi Baru Lahir

Merawat bayi pada umumnya tidaklah mudah, sebab jika kita melakukan kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal. Jadi harus menjaganya dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan dan diperhatiakn orang tua agar dapat merawat bayi baru lahir dengan sebaik-baiknya.

1. Persiapkan Mental

Bayi memiliki kebutuhan berbeda dan siklus tidur yang berbeda dengan manusia lain pada umumnya. Sehingga orang tua harus siap dengan hal ini dengan cara mempersiapkan mental dan mengotrol emosi. Sebab merawat bayi sangatlah melelahkan, bahkan sering bangun pada malam hari. hal ini sangat sulit bagi orang tua yang masih baru.

Hilangkan rasa takut, dalam merawat bayi yang baru lahir sebaiknya menjauhi sifat ini. Di dalam merawat bayi haruslah tenang seperti menggantikan popoknya, menenangkan saat bayi sedang menangis dan merasa tidak nyaman.

Awalnya memang sangat terkesan kaku bagi orang tua yang masih baru melakukan hal ini. Tapi, semakin sering merawatnya, akan terbiasa menghadapi bayi dalam kondisi apapun. Jadi, tidak usah merasa takut.

2. Menjaga Fisik

Selanjutnya para orang tua harus menjaga kondisi fisik, di dalam merawat bayi sering dikaitkan dengan kurang tidur. Jadi bagi ibu, hindari mengkonsumsi kafein atau makanan pengusir rasa kantuk salah satunya adalah kopi. Karena bisa berpengaruh terhadap ASI. Bagi para ibu, tetaplah konsumsi makanan yang sehat, minum yang cukup, pastikan sang ibu menghirup udara yang segar seperti di pagi hari, di mana udaranya belum tercampur oleh apapun.

Saat merawat bayi sebaiknya pekerjaan yang lain ditunda terlebih dahulu, jangan terlalu memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan sebelum melahirkan. Seperti membersihkan seisi rumah, mencuci pakaian, bisa ditunda terlebih dahulu. Jadi jangan langsung dikerjakan semua, karena hal tersebut akan membuat ibu drop.

Jadi sebaiknya para ibu menghemat energi dengan mengurangi melakukan kegiatan yang biasa membutuhkan banyak waktu dalam mengerjakannya. Seperti memasak, yang sebelum bayi lahir ibu selalu menyiapkan makanan yang sangat sempurna untuk sang suami tercinta. Karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan, bekerja samalah untuk dapat tetap memenuhi kewajiban namun disesuaikan dengan kondisi fisik oleh karena merawat bayi baru lahir.

3. Alternatif Menyusui

Bayi yang baru lahir kisaran berumur 2-3 sebaiknya disusui oleh orang lain, karena saat itu susu sang ibu sangat kental dan sebaiknya dicampur. Seperti kebiasaan yang dilakukan oleh orang arab, para ibu mencari wanita suku badui untuk menyusui anaknya. Namun hal ini tidak selalu terjadi. Sehingga sebelum melakukannya, perhatikan kondisi ASI sang Ibu. Apabila baik-baik saja, maka hal ini tidak perlu dilakukan.

banner iklan promo paket aqiqah spesial dari Padi Aqiqah

4. Menjaga Bayi dan Asupan Gizinya

Sebaiknya ketika anak berumur dibawah 3 bulan jangan dibawa keluar dan dibawa berjalan jauh, karena bayi belum lama baru keluar dari rahim ibunya. Lingkungan sekitar adalah lingkungan yang berbeda jauh dengan rahim sang Ibu. Jadi kondisi si bayi masih terlalu lemah.

Perlu diketahui bahwa bayi baru lahir hanya mengkonsumsi susu saja. Jika ingin diberikan makanan lain sebaiknya saat bayi sudah mulai tumbuh gigi. Jika gigi sudah tumbuh, maka lambungnya pun mulai kuat untuk diberikan makanan. Tentunya hal ini dilakukan bertahap.

Jika sang bayi mulai bisa berbicara sedikit demi sedikit, maka disarankan lidahnya diurut dengan madu dan garam. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan kelembaban berat ketika bicara. Jadi dengan diurut dengan madu dan garam, lidah sang bayi akan merasa lebih enteng jika ingin mengucap.

Bicara soal madu, ada banyak jenis lebah penghasil madu, mulai dari apis melivera hingga lebah trigona. Pelajari lebih lanjut soal perbedaan dan fungsinya sebelum memakaikan untuk adik bayi.

Sebaiknya bagi para orang tua muslim yang ingin memiliki anak yang sholih, ketika bayi sudah mulai berbicara, tuntunlah sedikit demi sedikit untuk mengucap kata laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah. Untuk membantu saat berbicara jika gigi sudah tumbuh, maka sebaiknya gusi bayi diurut dengan Zabadi dan minyak Samin.

5. Berdoa dan Perbanyak Beribadah

Setelah mengetahui fakta tentang bayi yang baru lahir, serta mengetahui beberapa hal yang perlu dilakukan, maka kita perlu menyadari bahwa merawat, mendidik, menjaga bayi kita adalah amanah dan merupakan ibadah. Dengan pemahaman ini setidaknya orang tua akan selalu terdorong untuk merawat bayinya sebaik dan semaksimal mungkin.

Allah SWT melalui para Rasul dan teladan-teladan orang-orang shalih telah memberikan pelajaran bahwa anak merupakan investasi. Investasi tidak instan karena hasil yang sifatnya jangka panjang. Sekecil apapun usaha yang kita lakukan demi bayi yang Allah SWT karuniakan kepada kita pasti akan berdampak pada hasil di masa yang akan datang.

Titipkan cita-cita kita pada anak-anak untuk mereka raih dan berikan seluruh hal yang kita punya sehingga akan menjadi bekal bagi anak-anak kita kelak. Selamat berusaha, terus bersemangat dan raihlah ridha Allah SWT.

Demikianlah ulasan tentang Merawat Bayi baru lahir dan cara-cara untuk yang harus dilakukan ketika bayi lahir. Semoga artikel di atas bermanfaat. Jangan lupa untuk bertanya atau meminta saran kepada ahli kesehatan baik dokter maupun bidan untuk selalu memantau tumbuh kembang bayi. Kunjungi terus halaman aqiqah Purwokerto.

Panduan Memberikan Nama Anak Dalam Islam

Panduan Memberikan Nama Anak Dalam Islam

Bagi orang tua yang baru saja dikaruniai seorang anak, dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah. Namun sejak lahir sudah diwajibkan bagi seorang ayah untuk memberikan nama bagi anaknya. Karena itu, panduan memberikan nama anak dalam Islam perlu menjadi acuan. Karena merupakan kewajiban yang harus ditunaikan sebaik mungkin.

Melaksanakan aqiqah sudah menjadi kebiasaan bagi para orang tua muslim di Indonesia dan berbagai belahan dunia lainnya. Dari kebiasaan ini, berkembang bisnis jasa aqiqah di Purwokerto dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memudahkan para orang tua yang seringkali masih repot saat merawat anak yang baru lahir.

Biasanya, saat melaksanakan aqiqah inilah nama anak diresmikan dan diumumkan oleh orang tuanya. Namun pemberian nama sudah dilakukan sejak awal setelah kelahiran. Bagaimana sebenarnya pedoman untuk masalah pemberian nama anak ini didalam Islam? Simak beberapa informasinya berikut ini.

Memberikan nama anak dalam Islam

Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan oleh orang tua terutama Ayah saat memberikan nama kepada anak yang baru lahir. Hukum dalam memberikan nama dalam Islam, pedoman dalam memilih nama, waktu dalam memberikan nama dan informasi lainnya. Maka, sebelum buru-buru menentukan, carilah berbagai informasi tersebut lebih dulu.

Hukum memberikan nama

Memberikan nama, dalam pandangan Islam hukumnya adalah wajib. Hal ini menurut kesepakatan Ulama’. Di dalam Al Quran terdapat ayat yang menerangkan tentang bagaimana Allah SWT memberikan nama kepada Nabi atau anak seorang Nabi saat baru lahirnya. Seperti salah satunya ayat berikut ini :

“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.” (Maryam : 7)

Bayi Yang Baru Lahir, sumber ig peccopecopeko
Bayi Yang Baru Lahir, sumber ig @peccopecopeko

Selain ayat tersebut, terdapat hadits Rasulullah SAW yang menerangkan tentang kewajiban orang tua. Salah satunya adalah memberikan nama. Berikut kutipannya :

“Sesungguhnya diantara kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya menulis, memberikan nama yang baik, dan menikahkannya bila telah dewasa.” (HR. Ibnu Najar)

Nama memang menjadi identitas yang sudah sejak dulu ada dalam peradaban manusia. Maka, Islam memiliki pedoman bagaimana seseorang menentukan atau memilih nama. Sehingga seorang anak dapat memiliki identitas yang baik dan cocok.

banner iklan promo paket aqiqah spesial dari Padi Aqiqah

Cara memilih nama

Dari seluruh pedoman memilih nama dalam Islam, tim redaksi Aqiqah Purwokerto melihat bahwa intinya, nama harus merupakan sebutan yang baik. Karena peradaban Islam memiliki bahasa arab sebagai landasannya, termasuk sumber pedoman dalam Islam yakni Al Quran dan As Sunnah – pun berbahasa arab, maka nama anak-anak muslim biasanya berbahasa arab.

Mengambil nama berbahasa arab sudah pasti harus memiliki paling tidak sedikit pemahaman bahasa arab. Jangan sampai nama anak merupakan kata kerja, kata penghubung atau kata-kata lainnya yang tidak bisa bermakna sebagai sebuah nama. Maka, bagi orang tua, ketahuilah sedikit khazanah bahasa arab yang luas dan indah ini. Jika tidak tahu, bisa bertanya kepada para Ustadz atau ahli bahasa arab lainnya.

Ibnu Umar mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya nama kalian yang paling disukai oleh Allah ialah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim)

Dari hadits ini memberikan pedoman setidaknya nama yang diberikan mengandung nama yang paling disukai oleh Allah SWT menurut sabda Rasulullah SAW diatas.

Lebih dari itu, para ulama biasanya menyarankan agar nama juga mengandung harapan dan kebaikan, berasal dari nama para shahabat Rasulullah SAW yang shalih, nama para Syuhada’, nama para Nabi Allah SWT dan beberapa saran lainnya.

Selain itu, hindari nama-nama yang tidak tepat, salah satunya adalah nama-nama yang tidak disukai oleh Allah SWT karena mengandung unsur yang mempersekutukan Allah SWT. Seperti dalam kutipan hadits berikut ini :

Samurah bin Jundub mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jangan sekali-kali memberi nama budak kalian dengan nama Yasar (mudah atau kaya), Najih (sukses). Juga jangan diberi nama Aflah (beruntung). Sebab jika kamu bertanya ‘Apakah ada dia?’ lalu (saat) dia tidak ada, maka akan dijawab ‘tidak ada’ (kemudahan, kekayaan, kesuksesan, keberuntungan, pent.). Sungguh semua itu hanya empat nama. (HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hindari pula nama-nama yang artinya buruk, nama hewan, nama berhala, nama berbahasa asing yang tidak diketahui asalnya dan lain-lain.

Potong Rambut Saat Aqiqah, sumber : aqiqahalkautsar.com
Potong Rambut Saat Aqiqah, sumber : aqiqahalkautsar.com

Waktu memberikan nama

Menurut As Sunnah, waktu yang terbaik memberikan nama pada anak adalah pada saat baru lahir, pada hari ketiga sampai ketujuh dan pada hari ketujuh. Namun kami tidak bisa mencantumkan semua dalilnya. Hanya saja kami mendapati salah satu hadits dimana Rasulullah SAW memberikan nama pada anaknya saat baru lahir berikut ini.

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda : “Semalam telah lahir anakku dan kuberi nama seperti ayahku, yaitu Ibrahim.” (HR. Muslim).

Hadits ini memberikan informasi bahwa Rasulullah SAW memberikan nama kepada anaknya saat baru lahir. Namun tidak menganjurkan apalagi mewajibkan demikian. Sehingga hal ini merupakan kebolehan.

Lebih dari itu, terdapat hadits yang berkaitan tentang aqiqah yang menganjurkan orang tua untuk beraqiqah dan memberikan nama di hari yang ketujuh.

Dari Samurah bin Jundab dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan, diberi nama dan dicukur rambutnya”. (HR. Abu Dawud (2838), Tirmidzi (91552), Nasa’I (7166), Ibnu Majah (3165), Ahmad (5/7-8, 17-18, 22), dan Ad Darimi (2/81)).

Itulah yang mendasari pendapat kami tentang waktu pemberian nama anak dalam Islam.

Itu dia beberapa informasi yang bisa menjadi sedikit pedoman terkait bagaimana memilih nama yang baik bagi anak. Semoga ringkasan ini bisa bermanfaat bagi para orang tua sekalian. Simak terus informasi seputar aqiqah lainnya di halaman padiaqiqah.com. Terimakasih

Informasi Aqiqah Bagi Anak Laki-laki

Informasi Aqiqah Bagi Anak Laki-laki

Menyambut kelahiran buah hati adalah hal yang ditunggu sekaligus dicemaskan. Namun Allah SWT telah memberikan petunjuk tentang apa yang perlu dilakukan. Salah satunya adalah persiapan untuk melaksanakan aqiqah, mempersiapkan nama dan lainnya. Nah, adakah ketentuan yang berbeda untuk hewan aqiqah anak laki-laki dan perempuan?

Dengan teknologi kedokteran yang ada, memprediksi waktu kelahiran, mengetahui jenis kelamin dan beberapa informasi kehamilan lainnya dapat diketahui. Nah, informasi yang dapat diketahui sebelum kelahiran ini dapat bermanfaat salah satunya untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan sang buah hati saat setelah kelahiran nantinya.

banner iklan promo paket aqiqah spesial dari Padi Aqiqah

Ketentuan Aqiqah Anak Laki-laki

Pada pedoman aqiqah dalam Islam, ada sedikit perbedaan terkait ketentuan aqiqah anak laki-laki dan perempuan. Namun perbedaan ini terkadang juga bisa diabaikan. Karena beberapa pedoman memang memberikan kemudahan apabila tidak mampu memenuhinya. Berikut ini beberapa ketentuan yang perlu dipahami sebelum melaksanakan aqiqah:

1. Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Banyak para orang tua yang bertanya-tanya, kapan waktu terbaik melakukan aqiqah untuk anak? pada dasarnya waktu melakukan aqiqah bukan saklek pada hari ketujuh setelah kelahiran karena pada hari ke 14 ataupun 21 juga diperbolehkan. Hal ini diperkuat dengan salah satu riwayat.

Dari Abu Buraidah R.A. Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya (HR. Baihaqi dan Thabrani). Jadi dari riwayat tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan aqiqah itu mulai dari 7 dan kelipatannya yaitu 14 dan 21.

2. Jumlah Hewan Aqiqah

Poin berikutnya yang tak kalah penting yaitu memahami berapa jumlah kambing untuk kelahiran si kecil. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kambing aqiqah anak laki-laki dengan perempuan cukup berbeda jumlahnya. Untuk anak laki-laki disunnahkan dengan 2 ekor kambing sementara anak perempuan dengan satu ekor kambing.

Salah satu riwayat yang menyatakan hal serupa yaitu Dari Amr Bin Syu’aib dari Ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk anak laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing. (HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad).

3. Jenis Hewan Aqiqah

Setelah mengetahui jumlah hewan aqiqah untuk anak yang baru lahir, berikutnya mengetahui apa saja jenis hewan yang diperbolehkan untuk aqiqah. Hewan yang disembelih saat aqiqah bisa berupa kambing maupun domba, untuk jenis kelamin dari hewan tersebut tak dipermasalahkan baik jantan ataupun betina.

Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Aisyah R.A. yang berkata “Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua domba yang sepadan dan dari anak perempuan satu ekor.” (Shahih riwayat At Tirmidzi).

Masih ada beberapa ketentuan lainnya yang perlu diketahui untuk syarat hewan untuk aqiqah. Ada beberapa poin yang harus dipenuhi saat memilih hewan untuk aqiqah si kecil. Hal ini tak sesulit yang dipikirkan. Untuk mengetahui lebih lanjut, maka tetap mengikuti penjelasan artikel ini hingga selesai dan tuntas.

Jenis Dan Syarat Hewan Untuk Aqiqah Si Kecil

Berikut ini uraian mengenai jenis dan syarat hewan aqiqah untuk bayi yang baru lahir:

  • Jenis hewan yang diperlukan untuk aqiqah berasal dari mamalia kecil seperti kambing dan domba.
  • Untuk kategori kelamin kambing abik jantang maupun betina sama saja tidak menjadi masalah.
  • Umur hewan untuk aqiqah sama dengan ketentuan hewan qurban, dengan domba maupun biri-biri cukup satu tahun.
Kambing Aqiqah, sumber ig lensproducties
Kambing Aqiqah, sumber ig @lensproducties

Jadi itulah penjelasan mengenai kambing aqiqah anak laki-laki dengan dua ekor dan anak perempuan dengan satu ekor kambing saja. Saat pelaksanaan aqiqah, sunnah lainnya yang bisa dilakukan yaitu mencukur rambut si kecil dan memberikan nama.

Berapa Pembagian Porsi dari 1 Ekor Kambing?

Salah satu anjuran bagi pelaksanaan aqiqah adalah memakan sebagian masakan hewan dan membagikannya kepada kerabat. Bagi para orang tua yang jarang berurusan dengan ternak kambing dan baru pertama kali melaksanakan aqiqah biasanya kebingungan terkait pembagian ini, terutama pada jumlah porsinya. Untuk memudahkan, yang pertama kali bisa Anda lakukan adalah menghubungi jasa aqiqah di Purwokerto.

Jika sudah memilih jasa aqiqah Purwokerto yang sesuai syariat Islam, hal kedua yang harus diperhatikan adalah tentang berapa porsi gulai yang bisa dihasilkan dari 1 kambing. Untuk ini, sebenarnya tidak ada angka khusus karena ini tergantung dari besarnya kambing yang disembelih. Selain itu, besar kecilnya porsi juga turut mempengaruhi jumlah yang bisa didapatkan.

Hanya saja, pada umumnya 1 kambing bisa menghasilkan 70 porsi gulai plus 250 tusuk sate. Bisa dikatakan, ini paket hemat. Adapun untuk paket aqiqah dengan kambing ukuran lebih besar bisa lebih besar pula jumlah porsinya. Bahkan, jika hanya menggunakan porsi gulai saja, tanpa sate, bisa lebih banyak gulai yang dihasilkan. Di sini, Anda bisa menentukan menu apa yang akan dipilih apakah gulai saja, sate saja atau kombinasi keduanya.

Jika kita tidak menghitung jumlah porsinya, maka bisa saja jumlah aqiqah yang dibagikan orang. Misal, jumlah tetangga, teman, keluarga dan kerabat yang akan kita bagikan aqiqah ini adalah 80 orang. Sedangkan paket hemat aqiqah menghasilkan 70 porsi gulai plus sate. Jika terdapat permintaan khusus, bisa dikonsultasikan kepada jasa aqiqah. Karena terdapat paket dan layanan yang bisa disesuaikan.

Itu dia berbagai informasi yang terkait hewan aqiqah anak laki-laki serta pembagian porsi aqiqah setiap 1 ekor kambing. Semoga informasi ini bermanfaat.

Bolehkah Berpuasa Saat Hamil? Simak Tipsnya

Bolehkah Berpuasa Saat Hamil? Simak Tipsnya

Bolehkah berpuasa saat hamil? Pertanyaan ini sering terdengar oleh para ibu muslimah yang memiliki keistimewaan ibadah puasa setiap tahunnya. Atau puasa wajib karena harus mengganti puasa dan puasa nadzar. Tetapi jika hamil dan pada saat bersamaan ingin melakukan ibadah puasa, apakah asupan nutrisi janin bisa terganggu?

Ini semua tentu tergantung kondisi fisik ibu hamil dan janin. Bagi sebagian orang mungkin tidak masalah, namun bagi sebagian yang lain mungkin bisa menimbulkan suatu risiko. Jika pun ibu hamil tetap menjalankan ibadah puasa saat hamil, sebaiknya tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi ibu hamil saat berpuasa. Jika ibu hamil tidak sanggup, solusinya bisa dengan tidak puasa. Apabila puasanya wajib, harus diganti diluar bulan puasa atau dengan membayar fidyah.

Puasa Tidak Mengganggu Kehamilan

Puasa saat trimester awal kehamilan tergolong sedikit beresiko bagi ibu hamil. Ketika hamil pada trimester awal, tubuh akan banyak membutuhkan nutrisi-nutrisi penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan. Hamil muda merupakan saat dibutuhkannya berbagai asupan nutrisi dalam jumlah yang cukup banyak.

Sehingga apabila menjalankan puasa dalam kondisi seperti ini, dikhawatirkan ibu hamil memiliki risiko memiliki bayi dengan berat badan lahir rendah atau BBLR. Di samping itu dehidrasi selama puasa juga dapat mempengaruhi penurunan fungsi ginjal dan berkurangnya jumlah cairan yang mengelilingi janin.

Namun, beberapa penelitian melaporkan bahwasanya puasa saat hamil muda tidak mempengaruhi janin dan kehamilan. Contohnya seperti penelitian di Iran tahun 2010 yang menyatakan bahwa wanita hamil muda yang melakukan puasa dengan asupan gizi yang tepat, tidak akan memberi dampak pada pertumbuhan bayi dan waktu kelahiran bayi. Berikut tips bagi ibu hamil yang ingin mencukupi nutrisi ketika berpuasa.

banner iklan promo paket aqiqah spesial dari Padi Aqiqah

Tips Sehat Puasa Saat Hamil

Kehamilan merupakan anugerah dari Allah SWT. Maka, Allah SWT pasti memberikan pedoman tentang bagaimana menghadapinya. Termasuk apabila diharuskan berpuasa saat sedang hamil. Dari sisi kesehatan, untuk menjaga nutrisi selama kehamilan, lakukan tips yang berhasil dirangkum tim redaksi aqiqah Purwokerto berikut ini.

1. Minum banyak air

Ketika berpuasa pastikan ibu hamil meminum banyak air saat sahur dan berbuka puasa. Dibutuhkan setidaknya dua liter air setiap hari atau sekitar 8 gelas agar kebutuhan air tercukupi. Ini sangat penting untuk menjaga ibu hamil terhindar dari dehidrasi saat berpuasa.

Hindari minum minuman yang mengandung kafein, seperti kopi, teh, dan minuman bersoda. Karena minuman tersebut dapat memicu hilangnya cairan tubuh. Nah, apabila muncul gejala-gejala sakit akibat kekurangan cairan tubuh, seperti pusing dan lemas, sebaiknya batalkan puasa dan segera minum banyak air. Karena dalam kondisi ini ibu hamil boleh membatalkan puasanya.

Makanan Bergizi, sumber : Primasari Catering
Makanan Bergizi, sumber : Primasari Catering

2. Makan makanan bergizi

Pastikan ibu hamil mengkonsumsi berbagai macam makanan yang bergizi, sehingga kebutuhan karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral dapat terpenuhi dengan baik. Ibu hamil muda disarankan untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran sebanyak 5 porsi per hari untuk bisa mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral.

Pastikan juga ibu hamil juga mengkonsumsi makanan sumber zat besi, folat, kalsium, dan vitamin A yang bisa diperoleh dari daging, susu, dan sayuran hijau. Zat-zat gizi tersebut sangat penting untuk memenuhi nutrisi ibu hamil muda saat berpuasa. Terutama di masa-masa awal kehamilan. Berbagai jenis makanan tersebut bisa diolah sesuai selera ibu hamil.

Hindari mengkonsumsi makanan dengan kadar gula yang tergolong tinggi namun sedikit sekali zat gizi. Makanan ini hanya akan menimbulkan rasa kenyang tapi tidak mencukupi asupan gizi ibu hamil dan janin. Setidaknya ibu hamil perlu makan sebanyak 4 sampai 5 kali di saat waktu buka hingga sahur agar kebutuhan nutrisi ibu hamil dapat terpenuhi.

3. Cukup istirahat

Agar ibu hamil tidak merasa kelelahan dan untuk menghemat energi saat berpuasa, disarankan untuk memperbanyak waktu istirahat. Diperlukan tidur siang bagi ibu hamil selama beberapa jam, agar dapat mencegah lemas saat berpuasa. Usahakan untuk tidur lebih banyak dibandingkan saat tidak hamil. Hindari agar tidak kekurangan tidur akibat begadang.

4. Hindari Stress dan Pekerjaan Berat

Selain menjaga kebugaran fisik dan menambah asupan gizi, tentu saja ibu hamil harus menghindari stress dan pekerjaan yang berat. Terkadang, para ibu tidak begitu memperhatikan masalah mentalnya saat hamil. Lebih dari itu, saat merasa stress, ibu hamil suka melampiaskannya pada aktivitas yang beresiko.

Maka, hindari stress. Stress adalah tekanan oleh karena berbagai hal yang sedang dihadapi. Untuk menghindarinya tentu saja dengan lebih bijak dan berusaha memahami. Berbagai permasalahan saat dihadapi dengan bijak serta dapat dipahami, maka stress dapat dihindari. Sebab biasanya stress disebabkan oleh berbagai ketakutan atau kekhawatiran.

Begitu juga hindari pekerjaan yang berat. Memang sebagian ibu saat ini banyak yang bekerja. Terkadang pekerjaannya bisa saja merupakan pekerjaan yang berat. Di saat tidak berpuasa saja, pekerjaan yang berat bisa beresiko, terlebih lagi pada saat hamil. Maka sebisa mungkin hindari hal ini.

Stress dan pekerjaan berat meskipun bukan terkait dengan fisik, namun dapat mempengaruhi fisik. Karena fisik yang sehat biasanya dibarengi dengan mental yang baik. Jadi, usahakan agar menjaga mental saat hamil dan berpuasa, agar keduanya dapat dijalankan dengan maksimal.

Itu dia beberapa tips terkait berpuasa bagi ibu hamil. Semoga tips ini dapat membantu para ibu sekalian. Periksakan terlebih dahulu kondisi fisik Anda dan tanyakan kepada dokter terkait kebolehan berpuasa saat hamil agar lebih yakin.