Bagi ibu hamil kesehatan janin dalam kandungan menjadi sangat penting untuk selalu dijaga. Bukan hanya kesehatan janin, tetapi juga kesehatan seorang ibu yang sedang mengandung. Upaya tersebut dilakukan agar dapat terhindar dari berbagai jenis penyakit yang sering dialami dan sebagai bentuk usaha mencegah IUFD pada janin.
Bagi para ibu hamil baru IUFD adalah salah satu kondisi yang mungkin belum terlalu diketahui dan dipahami. Maka dari itu, penting untuk Anda mencari tahu tentang penyakit IUFD agar nantinya bisa mengurangi resiko terjadinya kondisi tersebut.
Pada kesempatan ini akan dibahas berbagai hal tentang IUFD, untuk menjaga kesehatan dari janin yang sedang dikandung. Simak ulasannya!
Sekilas Tentang IUFD
Mengenal apa itu IUFD, Sumber: honestdocs.id
Intrauterine Fetal Death (IUFD) atau gejala IUFD adalah kondisi kematian janin yang terjadi di dalam kandungan. Kondisi seperti ini dapat terjadi pada masa kehamilan berusia 20 minggu yang menjadi salah satu kategori IUFD menurut WHO.
Untuk penyebab kematian janin dalam kandungan, para pakar mengatakan ada banyak penyebab. Baik yang terdiagnosis sampai yang tidak terdiagnosis.
Terkait IUFD, sebenarnya setiap ibu hamil memiliki resiko yang sama. Tetapi, kondisi ini dapat dicegah dan resiko masalah ini bisa dikurangi pada janin yang sedang dikandung.
Ibu hamil perlu mengetahui bahwa keguguran dan IUFD adalah dua kondisi yang berbeda. Hal yang membedakan keduanya terletak pada usia kandungan janin. Wanita yang sedang hamil dikatakan mengalami keguguran bila kematian janin kurang dari 20 minggu.
Tanda-tanda IUFD yang Biasanya Muncul
Kondisi IUFD biasanya akan ditandai oleh beberapa penyebab. Dari munculnya tanda-tanda tersebut, tentu Anda dapat langsung tindakan dan upaya mencegah IUFD terjadi pada janin.
Merokok dapat berdampak buruk pada ibu hamil, Sumber: hellosehat.com
Adapun beberapa penyebab IUFD adalah:
Plasenta janin tidak berfungsi dengan baik sehingga tidak bisa memasok nutrisi yang dibutuhkan. Kondisi ini dapat menghambat perkembangan janin dan memicu terjadinya IUFD.
Adanya kelainan genetik atau kelainan kromosom. Hal ini membuat kondisi organ vital janin tidak dapat berkembang dengan baik. Seperti otak dan jantung sehingga dapat memicu terjadinya IUFD.
Sering terjadi perdarahan pada trimester akhir kehamilan yang membuat tingkat resiko kematian janin menjadi lebih besar.
Memiliki kondisi medis tertentu yang dialami oleh sang ibu. Kondisi medis tersebut seperti diabetes, hipertensi, gangguan imunitas tubuh, kurang gizi, dan infeksi bakteri streptokokus grup B. Kondisi medis yang dialami seperti ini membuat resiko janin mati dalam kandungan.
Menerapkan pola hidup yang buruk. Kondisi pola hidup yang kurang sehat seperti mengonsumsi minuman beralkohol atau merokok saat hamil. Hal ini, tentu akan membuat janin dapat mengalami kondisi IUFD.
Itulah beberapa tanda-tanda IUFD yang harus bisa menjadi perhatian khusus bagi Anda yang sedang mengandung. Oleh karena itu, mulailah berfikir bahwa kesehatan janin menjadi prioritas utama yang selalu dijaga.
Cara Mencegah IUFD yang Bisa Dilakukan Oleh Ibu Hamil
Makanan sehat untuk ibu hamil, Sumber: aromarasa.com
Berkaitan dengan upaya untuk mencegah IUFD, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk melindungi perkembangan janin dalam kandungan. Apa saja cara tersebut? Berikut ini diantaranya:
1. Memeriksa Kondisi Janin Sesuai Jadwal
Terkadang, kondisi kandungan yang sehat membuat beberapa ibu lupa untuk melakukan pemeriksaan janin sesuai jadwal. Padahal memeriksa janin secara rutin dan terjadwal pada dokter adalah hal yang wajib untuk terus dilakukan.
Pemeriksaan kandungan sesuai jadwal yang telah ditentukan tentu bisa menjadi cara mencegah kondisi IUFD. Pasalnya, dengan melakukan pemeriksaan secara teratur, ada informasi update perkembangan janin yang didapatkan. Inilah kenapa ibu hamil tidak boleh menganggap sepele jadwal pemeriksaan janin ke dokter kandungan.
2. Rutin Mengkonsumsi Jenis Makanan Sehat
Saat mengandung, ada baiknya ibu hamil mulai menerapkan pola makan sehat. Pasalnya, dengan rutin mengkonsumsi jenis makanan sehat, dapat membantu mencegah terjadinya IUFD.
Makanan sehat yang dikonsumsi akan membuat janin akan tumbuh dan berkembang secara baik karena menerima nutrisi yang cukup. Tips ini sangat disarankan, terutama bagi Anda yang akan melakukan persalinan pertama kali.
Jadi, jangan sampai lupa untuk mulai mengkonsumsi berbagai jenis makanan sehat. Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan selain mencegah dari IUFD, yaitu mengurangi resiko masalah kehamilan. Dengan begitu, kehamilan dapat lancar hingga proses persalinan.
3. Aktif Dalam Melakukan Gerakan
Saat hamil bukan berarti Anda menjadi malas-malasan dalam melakukan sebuah kegiatan. Hanya saja jenis kegiatan yang dilakukan bukanlah sesuatu yang berat. Artinya, Anda dituntut untuk bisa aktif dalam melakukan gerakkan. Contohnya olahraga ringan seperti jalan, yoga dan lain-lain.
Dengan tubuh yang aktif dalam melakukan gerakkan dapat membuat kesehatan kehamilan tetap terjaga. Kondisi tubuh yang bugar dan stabil juga akan mengurangi resiko terjadinya IUFD. Serta berbagai masalah resiko kehamilan lainnya.
4. Menghindari Posisi Tidur Terlentang
Awal-awal kehamilan posisi tidur terlentang masih bisa dilakukan. Akan tetapi, pada saat sudah masuk pada minggu ke-28 posisi tidur terlentang tidak disarankan untuk dilakukan. Hal ini, ternyata dapat membuat usus dan pembuluh darah menjadi tertekan akibat beban janin yang terus mengalami pertambahan.
Dampaknya tentu akan membuat sirkulasi darah ke jantung menjadi terhambat. Tentunya, juga dapat berdampak pada kesehatan janin. Oleh karena itu, menghindari posisi tidur terlentang harus bisa dihindari untuk tetap menjaga bayi dalam kandungan. Serta juga bisa menjadi salah satu cara mencegah IUFD.
Itulah beberapa cara mencegah IUFD yang bisa dilakukan oleh ibu hamil. Meskipun risiko IUFD tetap saja mengintai, dengan melakukan beberapa tindakan pencegahan, bukan tidak mungkin masalah kesehatan ini tidak akan terjadi dan kehamilan Anda akan senantiasa sehat hingga waktu persalinan tiba.
Ovarium adalah salah satu organ kewanitaan yang berperan penting dalam reproduksi wanita. Oleh karenanya, setiap wanita perlu melakukan perawatan untuk menghindari gangguan terjadi dan bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan sel telur. Nah, salah satu gangguan yang sering dialami adalah kista ovarium.
Dalam pengertian singkat, kista pada organ ovarium adalah masalah kesehatan yang umum terjadi pada wanita di seluruh dunia. Umumnya, kista ini bersifat jinak dan berbahaya. Namun ada beberapa jenis kista yang perlu diwaspadai karena bersifat ganas dan beresiko kanker.
Berdasarkan hal tersebut, penting bagi setiap wanita untuk memahami jenis-jenis dari penyakit ini dan cara mengidentifikasinya sejak dini, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan atau pengobatan yang tepat waktu. Yuk, cari tahu bareng apa itu kista ovarium dan jenis-jenisnya!
Apa Itu Kista Ovarium?
Penyakit kista ovarium, Sumber: daai.tv
Kista ovarium adalah benjolan berisi cairan yang tumbuh di dalam atau di sekitar indung telur wanita. Kista ini biasanya muncul selama masa subur atau selama wanita mengalami menstruasi.
Wanita memiliki dua ovarium di dalam tubuh, kanan dan kiri. Kista ini sangat umum dan sebagian besar bersifat jinak dan tidak berbahaya. Namun, dalam beberapa kasus, penyakit ini dapat menjadi ganas atau kanker ovarium, yang memerlukan penanganan segera.
Para pakar mengatakan bahwa masalah ini dapat terjadi pada wanita dari segala usia. Paling sering ditemukan pada rentang 20-40 tahun. Di sisi lain, kista ovarium terjadi pada 18% orang yang sudah postmenopause.
Secara umum, penyebab terjadinya kista karena terjadinya gangguan pembentukan hormon di dalam tubuh. Selain itu, wanita yang memiliki riwayat kista sebelumnya, siklus menstruasi yang tidak teratur, menstruasi dini, dan meningkatnya distribusi lemak di bagian atas tubuh cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi.
Seperti disinggung sebelumnya, pada dasarnya, kista ovarium terjadi karena siklus menstruasi atau pertumbuhan sel telur yang tidak normal. Selain itu, kista ini cenderung jinak dan tidak berbahaya. Hanya saja, ada beberapa jenis-jenis dari penyakit ini yang harus diwaspadai wanita.
Beberapa diantaranya adalah:
1. Kista fungsional
Bisa dikatakan bahwa kista fungsional adalah jenis ini paling sering dialami wanita. Kista ini masuk kategori jinak sehingga tidak berbahaya. Jarang menimbulkan rasa sakit. Biasanya akan menghilang dalam waktu 2-3 periode menstruasi. Kista ini terbagi menjadi 2, yaitu kista folikel dan kista korpus luteum.
Kista folikel
Di tengah siklus menstruasi, akan terjadi ovulasi. Sel telur keluar dari ovarium. Pada saat keluar, sel telur dikelilingi folikel. Kista folikel akan terjadi jika folikel tersebut tidak pecah. Hal itu menyebabkan sel telur tidak dapat dilepaskan. Folikel akan tumbuh dan menjadi kista.
Kista corpus luteum
Ketika folikel pecah, sel telur lepas. Kantung sel telur akan kosong dan menyusut membentuk korpus luteum. Corpus luteum memproduksi hormon estrogen dan progesteron untuk pembuahan. Corpus luteum terbentuk jika kantung tidak menyusut. Pada saat itu kantung akan menutup sendiri setelah telur lepas. Cairan akan menumpuk di dalamnya.
2. Kista patologis
Kista patologis adalah kista yang tidak berhubungan dengan siklus menstruasi. Kista muncul karena pertumbuhan sel yang abnormal. Kista ini termasuk jenis yang ganas. Meskipun demikian, kista ini masih bisa disembuhkan.
3. Kista dermoid
Berasal dari embrio yang telah ada sejak lahir dan berkembang saat wanita sedang masa subur. Kista dermoid biasanya terbentuk pada usia reproduksi dan dapat tumbuh hingga beberapa sentimeter. Kista ini bersifat jinak, namun dapat berisi jaringan yang tidak biasa seperti rambut, tulang, dan gigi.
4. Kista endometriosis
Terjadi karena lapisan dinding rahim (ensometrium) tumbuh di luar rahim. Kista ini bisa menyebabkan rasa sakit saat berhubungan seks ataupun menstruasi. Pada endometrium atau dinding rahim tumbuh di indung telur.
5. Kista adenoma
Kista adenoma muncul karena terbentuk sel-sel di permukaan ovarium dan bisa berisi cairan atau lendir. Jenis satu ini bisa membesar dan mengakibatkan ovarium terpelintir, sehingga dapat mengurangi atau menghentikan darah ke ovarium.
Meskipun kebanyakan kista ovarium tidak memerlukan perawatan khusus, namun jika tidak diobati, lama kelamaan dapat tumbuh dan menyebabkan gejala yang tidak nyaman. Oleh karena itu, penting bagi setiap wanita untuk mengetahui jenis-jenis kista ovarium yang perlu diwaspadai dan tindakan apa yang harus dilakukan jika terkena masalah ini.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terkena Kista Ovarium?
Gejala dari kista ovarium bisa beragam, tergantung pada ukuran, jenis, dan lokasi benjolan tersebut. Beberapa gejala umum dari penyakit ini antara lain nyeri panggul atau sakit perut, perubahan siklus menstruasi, perdarahan diantara menstruasi, kesulitan buang air kecil atau besar, mual atau muntah, dan rasa penuh atau berat di perut.
Pemeriksaan USG, Sumber: alodokter.com
Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan tes diagnostik seperti USG (ultrasonografi) atau CT scan. Pemeriksaan dilakukan saat kondisi sedang tidak hamil. Terapi untuk kista ovarium bergantung pada jenis dan ukurannya, serta apakah bersifat jinak atau ganas.
Kista biasanya akan menghilang dengan sendirinya. Apabila ukurannya semakin membesar, mengganggu, dan terlihat abnormal maka ada kemungkinan dilakukan operasi kista ovarium. Jika diperlukan terapi atau pengobatan yang bisa dilakukan:
Mengonsumsi pil KB
Pil KB akan membantu mencegah kista ovarium berulang, namun tidak mengecilkan kista.
Pemantauan berkala
Pemeriksaan USG beberapa minggu setelah didiagnosis adanya kista. Pemeriksaan berfungsi untuk mengecek masih ada tidaknya kista.
Operasi
Prosedur operasi yang dilakukan adalah pengangkatan kista. Namun jika kasus lebih parah, maka pengangkatan ovarium juga dapat dilakukan.
Penyakit ini dapat terjadi pada setiap wanita. Oleh karenanya harus menjaga pola hidup sehat dan olahraga rutin. Ada kemungkinan juga kista ini terjadi pada ibu hamil. Jika terjadi, ibu hamil memerlukan perawatan yang tepat. Untuk mencegahnya, ibu hamil harus memperhatikan nutrisi saat hamil dan menjaga kesehatan ibu hamil.
Oleh karenanya, adanya perubahan siklus bulanan atau merasakan nyeri hebat atau sakit di perut harus diwaspadai dan diperiksakan jika diperlukan. Terlebih, jika masalah tersebut terjadi ketika Anda berada dalam siklus menstruasi. Tentu, penanganan yang tepat dan cepat sangat disarankan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Setiap orangtua pada umumnya ingin memberi yang terbaik bagi buah hatinya. Diantaranya dalam pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Oleh karenanya, penting bagi orangtua untuk mengetahui berbagai informasi terutama menyiapkan MPASI pertama.
Supaya pertumbuhan dan perkembangan buah hati dapat tercapai dengan optimal, WHO merekomendasikan agar ASI eksklusif diberikan selama 6 bulan pertama. Setelah melewati 6 bulan, buah hati dapat diberi ASI dan MPASI. Pada masa 6 hingga 12 bulan merupakan saat-saat yang rawan untuk pertumbuhan buah hati.
Sebagai referensi untuk menambah wawasan Anda dalam persiapan MPASI pertama, pada usia 6 bulan buah hati dapat diberi MPASI. Hal ini disebabkan karena ASI dan susu formula sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan nutrisi buah hati.
menyiapkan mpasi pertama, kerap menjadi tantangan. sumber: mommiesdaily.com
Bayi yang sudah berusia 6 bulan dapat diberi berbagai macam menu MPASI pertama seperti bubur susu, sayuran tumbuk, buah atau biskuit yang dihaluskan. Dalam pemberian MPASI sebaiknya disesuaikan dengan usia dan kesiapan buah hati dalam mengkonsumsi makanan selain ASI.
Ragam Kesalahan MPASI Pertama yang Kerap Terjadi
Memang, memberikan MPASI pertama kerap menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Belum adanya pengalaman atau pengetahuan yang memadai membuat orang tua kerap melakukan kesalahan yang tentu membuat MPASI yang diberikan kurang maksimal.
Dalam kesempatan kali ini akan dibahas kesalahan menyiapkan MPASI pertama yang sering terjadi. Agar buah hati Anda dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, sebaiknya Anda menghindari kesalahan-kesalahan berikut:
1. Memberikan MPASI Terlalu Dini
Ada kalanya orang tua keliru dalam memahami anjuran memberi makanan padat pada usia 6 bulan. Oleh karenanya, bisa jadi buah hati diberi makanan padat berupa MPASI terlalu dini, sebelum usia 6 bulan. Padahal selama 6 bulan pertama sebaiknya hanya diberi ASI secara eksklusif.
Selain memperhatikan kesiapan buah hati dalam menerima MPASI, pemberian MPASI sebaiknya menunggu buah hati hingga usianya 6 bulan. Setelah usia 6 bulan baru diberi makanan lembut selain ASI.
2. Terlalu Memaksakan Menyuapi Bayi
Berbagai makanan yang pertama kali dikonsumsi bayi merupakan hal baru baginya. Dari segi rasa maupun tekstur tentu berbeda dengan ASI. Maka cukup wajar bila reaksi bayi pertama kali MPASI belum sesuai dengan apa yang anda harapkan.
Anda tidak perlu berkecil hati bila si Kecil menolak makanan yang Anda berikan. Anda dapat mencoba untuk memberi waktu agar buah hati Anda terbiasa dengan berbagai rasa dan tekstur makanan. Hindari memaksakan untuk menyuapi anak, hal ini dapat menyebabkan trauma.
3. Terlambat Memberikan MPASI
Jika memberikan MPASI terlalu dini dalam dapat berdampak tidak baik, maka terlambat dalam memberi MPASI juga dapat berdampak buruk.
Feeding Littles memberikan saran kepada para orangtua agar tidak menunda-nunda pemberian MPASI melebihi 7 bulan. Setelah usia buah hati 6 bulan sebaiknya segera diberi MPASI.
mpasi yang terlalu cepat atau terlalu lambat bisa menjadi masalah. sumber: berkeluarga.id
Keterlambatan dalam pemberian MPASI dapat menyebabkan orangtua terlambat untuk mendeteksi jika buah hati memiliki alergi terhadap suatu makanan. Makanan yang biasanya dapat memicu alergi misalnya telur, susu sapi, ikan, kedelai, kacang-kacangan, gandum, dan kerang.
4. Terlalu Lama Memberi Makanan Bertekstur Lembut
Makanan bertekstur lembut memang relatif aman untuk buah hati, apalagi jika orangtua merasa khawatir buah hatinya tersedak makanan. Namun, jika buah hati terlalu lama diberi makan yang teksturnya lembut, hal ini dapat memungkinkan buah hati mengalami kesulitan dalam mencerna makanan yang lebih utuh.
Hasil dari sebuah penelitian menyatakan bahwa bayi yang tidak makan makanan kental di usia 9 bulan berisiko lebih tinggi untuk mengalami kesulitan makan di masa mendatang. Kemampuan dasar bayi yang berkaitan dengan mulut dapat berkembang sesuai bertambahnya usia.
Maka, sebaiknya orang tua segera mengupayakan untuk secara bertahap memberi makanan bertekstur lebih kasar. Adapun langkah yang dapat dilakukan saat usia bayi di antara 6 hingga 9 bulan dapat dicoba pemberian makanan dengan tekstur konsisten yang diawali dari makanan lembut dan cincang halus. Selanjutnya di usia 9 hingga 12 bulan secara bertahap dapat diberi makanan lunak dan cincang kasar.
5. Memberikan Makanan Dengan Gizi Tidak Seimbang
Menu MPASI harus mengandung gizi yang simbang. Berbagai nutrisi yang dibutuhkan buah hati tidak dapat dipenuhi jika hanya minum ASI maupun susu formula. Oleh sebab itu, MPASI harus terdiri dari karbohidrat, lemak, vitamin, protein, dan mineral secara seimbang.
MPASI yang tidak seimbang dapat berpotensi meningkatkan asupan garam yang berlebihan ke dalam tubuh buah hati. Jika hal ini terjadi, kerja ginjal semakin berat. Selain itu juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi di kemudian hari.
Maka Anda perlu memastikan dalam memberikan MPASI yang bergizi seimbang. MPASI yang bernutrisi akan menjadikan si Kecil merasa kenyang sehingga dapat mempermudah Anda dalam menidurkan bayi.
6. Memberikan Jus Buah Terlalu Banyak
Sebelum buah hati berusia satu tahun, sebaiknya tidak diberi terlalu banyak jus buah. Hal ini sesuai dengan anjuran dari American Academy of Pediatrics (AAP). Jus buah tidak mengandung vitamin dan mineral yang cukup untuk buah hati Anda, maka perlu dilengkapi nutrisi dari sumber makanan yang lainnya.
jus buah yang terlalu banyak, kurang baik untuk mpasi. sumber: theasianparent.com
Apalagi beberapa jus buah yang rasanya terlalu manis maupun masam dapat berdampak buruk bagi kesehatan gigi, bahkan dapat menyebabkan diare. Untuk itu dalam memberikan jus buah perlu diatur porsinya.
Jangan membatasi MPASI hanya dengan buah dan sayur saja. Sebaiknya Anda tetap memberikan MPASI yang bergizi seimbang. Misalnya kebutuhan karbohidrat dapat berasal dari nasi atau kentang, kebutuhan protein dan lemak dapat berasal dari telur atau daging.
Itulah beberapa kesalahan menyiapkan MPASI pertama yang kerap terjadi. Dengan menghindari kesalahan dalam pemberian MPASI akan berdampak baik pada kesehatan serta pertumbuhan dan perkembangan buah hati Anda. Semoga dapat membantu memperkaya wawasan terkait perawatan pada bayi.
Bedong bayi baru lahir masih sering dijumpai di kehidupan modern saat ini. Meskipun manfaat menjadi alasannya, tetapi tanpa adanya pengetahuan justru akan membahayakan buah hati. Lantas bagaimana sebenarnya langkah supaya bedong bisa memberi manfaat?
Masyarakat meyakini, saat bayi dibedong ia akan mendapatkan kenyamanan. Transisi dari rahim ibunya ke dunia nyata memang membutuhkan perlakuan khusus. Hal tersebut dilakukan agar jabang bayi tidak kaget serta menjadi sarana beradaptasi.
bedong, perawatan bayi yang menjadi perdebatan banyak kalangan. sumber: istockphoto.com
Hanya saja, cara bedong bayi yang salah nantinya bisa berdampak buruk pada buah hati. Agar tidak memberikan efek negatif, alangkah baiknya seseorang mengetahui cara bedong yang tepat serta berlatih terlebih dahulu sebelum benar-benar praktek pada bayi.
Resiko Kesalahan Bedong Bayi Baru Lahir
Masa manusia pada usia bayi adalah waktu rentan. Pasalnya pada saat itu tulang bayi masih sangat lemah. Ketika seseorang melakukan kesalahan dalam proses membedong, banyak resiko yang mengancam sang buah hati.
Sampai saat ini dunia medis telah mencatat banyak kejadian buruk akibat kesalahan dalam membedong. Dari yang berpengaruh pada struktur tulang bahkan hingga kematian. Tentu Anda tidak ingin hal ini terjadi pada buah hati bukan?
Dunia medis mengenal istilah Sudden Infant Death Syndrome (SIDS). Hal ini adalah kejadian pada bayi berusia dibawah satu tahun yang tiba-tiba meninggal dunia, padahal kondisinya sehat. Salah satu penyebab dari SIDS adalah kesalahan dalam membedong.
Dengan fenomena tersebut, dunia medis berharap agar orang tua memperhatikan cara membedong bayi baru lahir. Dimulai dari penggunaan kain yang sesuai sampai pemantauan bayi setelah dalam posisi dibedong. Jika tidak maka potensi keburukan tersebut bisa terjadi. Meskipun ada sebagian akibat yang tidak terlihat secara langsung, dampak negatif seperti displasia panggul dan kaki bengkok adalah dampak yang sering ditemui.
Membedong bayi adalah salah satu bagian merawat bayi baru lahir peninggalan leluhur. Saat dilakukan dengan benar, akan memberi manfaat pada pertumbuhan bayi. Namun jika terjadi kesalahan, akibat buruk sudah menanti.
Langkah Bedong Bayi Baru Lahir
Untuk mengurangi resiko hal buruk akibat membedong, langkah berikut dapat dijadikan sebagai referensi:
1. Siapkan Kain
Pertama yang perlu dilakukan adalah menyiapkan kain. Pastikan memilih kain bertekstur lembut serta tipis. Para leluhur masa lalu biasa menggunakan kain jarik, tetapi bisa juga menggunakan kain lain seperti kain katun atau selimut tipis.
Setelah itu lipat satu bagian ke dalam bagian lain. Buat kain menjadi bentuk segitiga. Hal ini untuk mempermudah juga memaksimalkan fungsi.
2. Letakkan Bayi
Setelah itu letakkan bayi di atas kain dengan posisi terlentang. Taruh bayi pada salah satu sisi kain yang telah dilipat, pastikan leher berada di luar kain. Boleh pada bagian kanan atau kiri tergantung posisi ternyaman.
bedong membeuat bayi merasa nyaman. sumber: istockphoto.com
Lipat satu bagian ke bawah tubuh bayi dengan posisi tangan terkuat mengangkatnya. Lakukan hingga rapi, jangan terlalu ketat maupun terlalu longgar. Terlalu ketat bisa akibatkan bayi sulit bernafas. Sementara terlalu longgar dikhawatirkan menimbulkan lilitan.
3. Menutup Kaki
Kain yang tersisa pada bagian bawah digunakan untuk menutup kaki bayi. Namun jangan sampai membuat lipatan terlalu kuat. Satu kondisi bayi tidak dibedong kaki bengkok tetapi lilitan yang terlalu kuat juga akan mengubah posisi tulang.
4. Menutup Bedong
Terakhir jika ada kain yang tersisa dapat difungsikan untuk menutup dan merapikan bedong. Posisi tangan bayi dapat diletakkan di atas dadanya serta sekalian dilipatkan dari kain sisa. Hal ini agar mengurangi efek saat bayi terkejut.
Melakukan langkah ini adalah untuk mengurangi resiko bayi kesempitan. Namun disisi lain juga tidak terlalu longgar agar menghindarkan bayi dari resiko terlilit terutama pada bayi yang mulai aktif.
Sampai Kapan Bayi Dibedong?
Sebagaimana yang telah disinggung di atas, fungsi dari membedong adalah untuk memberikan rasa nyaman dan sarana bayi beradaptasi. Dengan melihat fakta bayi baru lahir, perlakuan khusus tersebut tentu memiliki batasan agar tidak menimbulkan dampak negatif.
Para pakar memberikan penjelasan, ketika sudah sampai pada batas usia tertentu bayi akan mulai aktif. Jika bedong tidak dilepaskan, maka keberadaannya justru akan menghambat pertumbuhan sang buah hati.
Meskipun pertumbuhan bayi berbeda-beda, dunia medis memberikan batas rata-rata berhenti membedong adalah pada usia 2-3 bulan. Pada usia tersebut mayoritas bayi sudah mulai aktif dengan menggerak-gerakkan tangan dan menendangkan kaki.
Bahkan pada usia tersebut ada sebagian bayi yang bisa tengkurap. Jika sampai bayi dalam posisi tengkurap dengan kondisi terbedong, tentu hal itu akan sangat berbahaya.
pakar berbeda pendapat tentang kapan bayi terakhir dibedong. sumber: istockphoto.com
Di samping itu pertumbuhan bayi yang semakin aktif akan membakar metabolisme dalam tubuh. Keadaan tubuh yang panas akan menghasilkan keringat. Dengan keadaan terbedong, keadaan panas tersebut akan membuatnya tak nyaman dan tersiksa.
Satu hal yang pasti adalah orang tua maupun pengasuh bayi dituntut untuk peka. Dengan perkembangan yang terjadi pada buah hati, orang tua harus selalu tangkas dan sigap. Pada banyak kejadian, kecelakaan bayi dibedong adalah karena faktor terlenanya orang tua.
Perlukah Bedong Bayi Baru Lahir?
Dengan melihat efek bayi tidak dibedong serta banyaknya manfaat, membedong bayi diperlukan terutama yang baru lahir. Tetapi melakukannya tidak boleh sembarangan dan alangkah baik jika berlatih terlebih dahulu.
Selain membedong, anak yang baru lahir disyariatkan untuk diberikan aqiqah khususnya yang beragama Islam. Dengan melaksanakan syariat dan membedong dengan panduan para medis, keselamatan bayi akan lebih terjamin.
Untuk mendapatkan kemudahan dalam melaksanakan aqiqah, Padi Aqiqah siap memberikan pelayan. Memiliki banyak pengalaman, pengerjaan akan maksimal dan mengikuti syariat. Semoga Allah memberikan kesehatan pada setiap bayi yang lahir di bumiNya, Aamiin.
Permasalahan yang dihadapi oleh para ibu hamil bisa dibilang cukup kompleks. Salah satunya adalah soal menjaga imunitas dan kondusifitas mood. Hal ini menuntut perlunya pendekatan yang efektif dan juga alami, diantaranya dengan beberapa resep minuman jahe untuk ibu hamil yang terbukti cukup efektif.
Oleh karena itu beberapa menit kedepan Anda bisa menggali apa saja manfaat minuman jahe bagi ibu hamil, sekaligus apa saja resep sederhana yang bisa Anda jadikan acuan untuk membuat sajian teh jahe secara mandiri di rumah.
Manfaat Teh Jahe untuk Ibu Hamil yang Perlu Anda Ketahui
Ada banyak manfaat teh jahe yang bisa Bumil dapatkan, diantaranya adalah sebagaimana berikut:
1. Mengatasi Morning Sickness
Sejumlah ibu hamil sangat rentan mengalami morning sickness, mual sampai dengan muntah. tentu saja hal ini bisa sangat mengganggu bahkan mengurangi nafsu makan para ibu hamil, sehingga perlu untuk diatasi sesegera mungkin.
Morning sickness sangat mengganggu masa kehamilan. Sumber: istockphoto.com
Kabar baiknya, teh jahe terbukti ampuh membantu mengatasi keluhan ini. Pasalnya jahe sendiri mengandung senyawa gingerol dan shogaol yang berfungsi sebagai reseptor pada sistem pencernaan serta mempercepat pengosongan perut.
2. Mengatasi Hiperemesis Gravidarum
Teh jahe juga bisa membantu mengatasi hiperemesis gravidarum yang merupakan gejala mual hanya saja mual dan muntah di sini terjadi secara berlebihan. Kondisi ini tidak sekedar mengganggu ibu hamil, bahkan berisiko membuat ibu hamil mengalami dehidrasi, sembelit, sampai dengan penurunan berat badan sehingga kesehatan ibu dan janin menjadi terganggu.
3. Meredakan Kram Perut
Kram perut merupakan jenis keluhan yang cukup umum dialami oleh ibu hamil di trimester pertama. Kram perut memang tidak begitu membahayakan jika masih dalam skala ringan. namun ketika kram perut berat maka sudah harus mendapatkan pertolongan. Dalam hal ini jahe dapat bertindak sebagai antiinflamasi pereda nyeri di perut.
4. Melawan Infeksi
Perubahan hormon selama masa kehamilan juga bisa memicu gangguan pada mulut dan gusi. Oleh karena itu, selain perlu melakukan pemeriksaan gigi secara rutin ke dokter gigi, bumil juga dianjurkan mengonsumsi teh jahe guna menjaga kesehatan gigi dan mulut. Hal ini dikarenakan adanya kandungan pada jahe yang memiliki efek antibakteri.
5. Membantu Menjaga Kadar Kolesterol
Kolestrol bisa menjadi ancamaan bagi jantung ibu. Sumber: unsplash.com
Mengkonsumsi jahe untuk ibu hamil juga cukup efektif dalam mengatur kadar kolesterol selama kehamilan. Dimana kadar lipoprotein LDL yang tinggi (kolesterol jahat) bisa berdampak pada peningkatan risiko penyakit jantung.
6. Meredakan Kondisi Nyeri Otot
Nyeri otot yang banyak dialami oleh ibu hamil juga bisa diatasi dengan mengkonsumsi jahe, meski dampak yang dihasilkan tidak terjadi secara langsung. Anda bisa mengonsumsi 2 gram jahe per hari, selama 11 hari.
7. Membantu Melawan Batuk dan Pilek
Sistem kekebalan tubuh cenderung melambat selama kehamilan. Mengantisipasi hal ini, para ibu hamil dianjurkan untuk memanfaatkan jahe untuk meningkatkan sistem kekebalan, dan membantu para ibu hamil pulih dengan cepat.
8. Membantu Meredakan Mual di Pagi Hari
Mual dan muntah pada ibu hamil konon berdampak besar pada kualitas hidup. Dengan pertimbangan pilihan alami, mengkonsumsi jahe terbukti baik untuk mengatasi mual dan muntah.
9. Membantu Penyerapan Nutrisi
Mengkonsumsi jahe untuk ibu hamil juga dapat membantu tubuh menyerap nutrisi dari makanan yang dikonsumsi. Hal ini tentu saja dapat membantu pertumbuhan janin dengan pertumbuhan yang baik.
Resep Minuman Jahe untuk Ibu Hamil
Ada cukup banyak resep simpel untuk membuat minuman jahe bagi ibu hamil yang bisa Anda coba sendiri di rumah. Berikut ini ulasan lengkapnya.
1. Wedang Jahe Gula Merah
Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain 1 batang serai, 1 ruas jahe, gula merah secukupnya, 1 sdm air perasan lemon, dan 1 gelas air panas
Racikan seduhan jahe adalah pilihan terbaik. Sumber: unsplash.com
Cara membuatnya: Cuci hingga bersih dan potong-potong semua bahan. Setelah terpotong, campurkan semua bahan ke dalam air panas dan aduk hingga merata.Cara lain, Anda bisa merebus semua bahan dalam sebuah panci berisi air sampai mendidih. Nikmati selagi hangat.
2. Air Guraka Khas Ternate
Bahan-bahan yang dibutuhkan: 3 ruas jahe, 2 keping gula merah 500 ml air, dan 2 genggam kacang tanah
Cara membuatnya: Sangrai kacang tanah hingga cukup matang. Setelah itu bersihkan kulit arinya, lalu sisihkan kacang. Di lain sisi bersihkan juga jahe lalu iris tipis. Berikutnya cacah gula merah sebelum dimasukkan ke dalam panci berisi air panas. Kemudian masukkan irisan jehe dan tunggu hingga dirasa cukup. terakhir saring sajian siap dinikmati dengan taburan kacang sangrai.
3. Minuman Jahe Biji Jali
Bahan-bahan yang dibutuhkan: 5 sdm biji jali, 2 liter air, 3 cm jahe geprek, 1 simpul daun pandan, 1/4 sdt garam, dan gula pasir secukupnya.
Cara membuatnya: Pertama-tama rendam biji jali selama semalam, selanjutnya cuci dan tiriskan. Rebus air, daun pandan, jahe dan biji jali-nya hingga air mendidih. Setelah itu tutup pancinya selama 30 menit. jangan lupa untuk menambahkan gula sesuai dengan selera. Setelah itu sajian jahe biji jali siap disajikan.
4. Minuman Jahe dan Kelapa Muda
Bahan-bahan yang dibutuhkan: 1 butir kelapa muda, 100 gr kolang-kaling, 4 ruas jahe, 100 gr gula aren, 2 sdm fiber creme, Sedikit garam, 400 gr air
Cara membuatnya: Rebus terlebih dahulu kolang-kaling, lalu bersihkan setelah ditiriskan. Kerok daging kelapa dan pisahkan dengan airnya, geprek jahe, dan haluskan gula aren. Setelah semuanya siap maka campurkan semua komponen. Terakhir masak hingga mendidih dan jahe kelapa muda siap dinikmati.
Cara membuatnya: Pertama-tama kupas jahe, cuci dan tumbuk. Setelah itu masukkan semua bahan (kecuali santan) kedalam panci untuk direbus. Di sisi lain masak juga gula hingga larut dan mendidih. Tuang dan saring ke dalam gelas dengan tambahan satu butir kuning telur ayam kampung. Nikmati selagi hangat.
Selain kelima resep di tas, Anda juga masih bisa melakukan kreasi minuman jahe lainnya seperti resep jahe kurma, jahe pandan, sampai dengan jahe madu. Demikian itulah ulasan seputar ibu hamil dan masa kehamilan kali ini. Semoga bermanfaat. jangan lupa share dan nantikan ulasan menarik lainnya. Sekian dan terima kasih.